Postingan

Menampilkan postingan dari 2002

Contoh Puisi Ulang Tahun

Rambatan Usia

Rambatan usia sebagai sulur-sulur antara gelap dan cahaya
Menelusur riwayat hingga jejak yang terakhir

Ke batas segala lindap segala senyap
Hingga tetamburan diri henti gemuruh riuhnya

8 Juli 2002






Burung Kata-Kata

Jutaan kata melesat ke angkasa
Terbang tak tentu sampai ke mana

(jutaan burung kata-kata menyerbu langit mencari arah pulang menabrak mega-mega menabrak atmosfir menabrak bulan menabrak bintang menabrak nebula menabrak meteor menabrak asteroid menabrak lubang hitam)

--- di mana tahta Sang Raja kata-kata?




Contoh Puisi Kenangan Romantis

Seputih Lupa Sebiru Ingatan

Seputih lupa, katamu. Tapi ingatan berwarna-warna. Dengan jemari kulukisi kanvas waktumu. Hingga sorot matamu menerawang menerbang ke masa lalu. Terowongan yang tak habis kau telusuri. Hingga warna segala warna memasuki tidurmu. Mimpimu yang berwarna. Mungkin biru. Ingatan yang biru.

Ingatan demikian biru. Seperti langit. Seperti laut. Seperti rindu dari masa lalu. Tapi ada yang ingin menghapus segala kenang. Seputih lupa, katamu. Di sudut mata. Menggenang butir airmata.



Huruf Yang Minta Dibunuh

Huruf Yang Minta Dibunuh

Sehuruf kata meminta penyair
Membunuh dirinya sendiri

!

Depok, 5 September 2002



Batu Hitam

Batu Hitam

batu hitam. batu hitam. meluncur di malam kelam. dari langit jauh.
dari waktu yang entah.

batu hitam. batu hitam. mendiam di sudut.

seperti kenangan yang melesat. batu hitam melesat dari ruang entah
pada saat entah.

bintang jatuh katamu. pada malam yang rapuh.

menemu gigil lelaki. yang mendirikan kenangan dari sorga yang jauh.




Memasuki Kota Menhir

memasuki kota menhir, sayatan pahat pada batu-batu, aroma purba
arus mimpi mengundangku datang menemu wajahmu kota tua

seperti kutemukan wajahku di situ
tubuh yang disalibkan di pancang batu

telah tersesat domba-domba beterjunan ke lumpur hitam
hingga mengembik di sekarat legam

doa doa apa yang dilontarkan ke langit
sebagai deru sebagai teriak jerit pahit

memasuki kota menhir, lingga patah, yoni retak
wajah mimpiku pecah berderak

Depok, 11 September 2002



Puisi Untuk Kekasih Abadi

SEBAGAI NYERI DALAM DADA

senyeri dalam dadaku kekasih engkau adalah tikaman hunjaman sayatan ke dalam dadaku yang tak henti dengan segala tatap yang memporakan segala rahasia hidupku kekasih yang kau asingkan ke dunia demikian asing dan penuh goda hingga terasa sia-sia segala usia di mana tak kutemukan engkau dalam nadi jiwaku selain denting denting yang timbul tenggelam dari masa lalu dalam hilap dan alpa yang menggunting gunting ingatan hingga compang camping hidupku dengan segala khianat perselingkuhan pada kesejatian cintamu dengan goda sihir dunia yang dihembus sebagai silir angin nafsu birahi pada kelamin yang menegang dan mata yang membelalak terpukau pada selain engkau o kekasih yang jauh dalam kenanganku di mana engkau aku mencarimu dengan segala luka dalam jiwaku merindu dirimu dengan tangan menggapaigapai ingin jumpa dirimu dalam sekarat mautku dalam derita kesepian bikin nyeri menjadi-jadi dalam dada sendiri demikian lebur dalam amuk sajak tak henti ingin menemu akhir dan …

Puisi Cinta dan Rindu Kepada Tuhan

SEBAGAI PECINTA YANG MERINDU WAJAHNYA

demikianlah hiruk pikuk serta sihir dunia telah memabukannya hingga terasa perutnya diaduk-aduk benaknya diaduk-aduk dadanya diaduk-aduk hingga ingin dimuntahkan segera seperti gelas yang penuh dan luber dan mengalir ke mana entah mungkin ke ketiadaan atau asal mula segala persoalan sebagai diingatnya kekosongan menemui diri sendiri ditumpahkan segala tangis dan aduhnya pada kesunyian seperti abad-abad kesunyian al-kahfi atau keheningan hira di mana muhammad menekuri kesejatian hidup hingga malam-malam adalah tangis ruh yang merindu kekasih yang menghembus cintanya ke dalam dada sendiri ingin kembali pulang terbang menembus tabir-tabir rahasia wajahnya yang maha rahasia wajahnya di tabir cahaya di lapis cahaya hingga ia menari dalam dendang lagu rindu yang menghentak-hentak hingga terbang dalam dawam-lafaz nama kekasih yang dirindu yang tak terhingga jarak dan waktu sebagai likuliku pendakian ke hakikat makrifat terbang dengan sayap yang robek dan…

Contoh Puisi Religi

SEBAGAI ORANG YANG MENZALIMI DIRI SENDIRI

sebagai adam yang terusir dari negeri jauh itu akupun menangis dan memohon ampun atas penzaliman diri sendiri sebagai nuh yang menangis mendoa di hujan deras meminta ampunan bagi kanaknya yang durhaka sebagai yunus yang lari dari kaumnya di perut ikan nun sebagai ibrahim yang berdoa meminta ampunan bagi bapak pembuat berhala aku berdoa sebagai orang-orang yang telah menzalimi diri sendiri di usia sia-sia tak henti menerima kekalahan diri sendiri dari goda dari angan mimpi yang dikejar sebagai bayang tiada habis ke ujung cakrawala gairah yang menyala sambil mencoba menipu diri sendiri menipu tatapmu berulangkali dengan khianat tapi engkau demikian tajam menatap tak aku sanggup sembunyi bahkan dari diri sendiri yang menyeru agar aku berhenti menzalimi diri sendiri di lintasan waktu yang membuat dada cintaku pecah berhamburan peristiwa-peristiwa kegilaan pikiran memuncak puncak ke cakrawala otakku hingga burai segala isi sebagai pecahan-pecahan k…

Contoh Puisi Kampanye Perdamaian

ADALAH KANAK-KANAKMU

Kanak-kanak berlarian ke ujung cakrawala. Adalah kanak-kanakmu yang memburu harap. Dengan mimpinya yang tumbuh dari dalam kepala. Bersulur-sulur ingin gapai pelangi, bintang, rembulan, matahari dan biru langit. Adalah kanak- kanak yang berlarian telanjang kaki dengan keperihan dalam dada. Menyeru nama ayah ibu. Menyeru masa lalu. Karena compang camping sejarah dijejalkan ke dalam tempurung kepala. Sebagai perca penuh darah dan nanah.

Sebagai kanak-kanak mereka berlari mengejar bayang-bayang. Dalam tatap bengis orang dewasa. Dalam letus senapan. Dalam ledak bom. Mereka berlari memegang ranting zaitun. Menggambar burung merpati di setiap tembok kota.

Mereka adalah kanak-kanakmu, menyeru namamu. Merindu negeri jauh itu.

Depok, 16 Desember 2002




Contoh Puisi Kritik Sosial dan Moralitas

MANUSIA MANUSIA TANPA KEPALA

manusia manusia tanpa kepala berloncatan dari televisi yang penuh tahyul dan dongeng iklan manusia berkulit putih mulus setelah 3 minggu berlulur krim hingga tak dapat dibedakan mimpi dan nyata manusia tak berkepala menyorongkan horor tak menakutkan dari dunia setan arwah gentayangan sundel ke dalam kamarmu yang penuh dengan perselingkuhan sebagai sinetron yang memaparkan kecantikan dan kegantengan dan kemewahan sebagai mimpimu membunuh rasa lapar hingga semangkok mie instan serasa hidangan lezat restoran yang diobrakobrik manusia penghutang yang berjejalan di dompetnya credit card dan berhandphoe terbaru dengan dering lenguhan ranjang hotel-hotel yang menyimpan kematian kesetiaan karena cinta adalah transaksi jual beli sebagai untung rugi di tangan para calo yang tak peduli apa-apa selain berlipat modal berlipat lipat hingga mimpi dapat dibeli hingga angan dapat dicapai gapai hingga tak ada kalimat tak boleh bahkan maling asal kaya dan punya kekuasaan dih…

SAJAK AKU MUNTAH MUNTAH SAMPAH

aku muntah-muntah mabuk sampah yang kutelan dengan lahap karena rasa lapar tak dapat kutahankan hingga demikian tamak rakus kutelan semua tanpa sisa dan aku muntah muntah keracunan kejang-kejang mendelik mataku berputar putar dunia berputar putar di mana amerika di mana inggris di mana australia di mana indonesia aku tak kutahu lagi selain bahasaku menjadi gelap menyimpan bahasa para skizo yang paranoid tak dapat menyeberang jalan karena lalu lintas demikian brengsek dan menakutkan bagi pejalan kaki dan memaki anjing babi monyet dan hingga jalan jalan berubah menjadi kebun binatang dan ruang konsultasi seks di mana klakson dibunyikan keraskeras menindas rasa nyeri dalam dada sendiri hingga aku muntah muntah menyampah kata-kata bersumpah serapah mengutuk muntahku sendiri!

Depok, 2002



Contoh Puisi Post modern dan Post colonial

DONGENG HANTU DI KOTA SAJAK

Buat: penyair w

hantu telah meledakkan mimpi kota kota di malam malam panjang mengerikan sebagai teror yang dicipta dalam koran dan televisi dan film holywood di mana tak ada rambo atau james bond yang mampu mencegahnya karena kesumat telah menjadi seamuk mayat yang dibangkitkan dari kuburnya dengan dendam dan belatung dari borok luka yang penuh darah dan nanah gentayangan menghampiri sajak yang penuh kegelapan bahasa yang telah menjadi sulapan dari dunia kegelapan menghantuimu dengan mulut mulut nganga berbau busuk propaganda tak henti henti dari botol botol minuman impor berlabel franchise formula dan resep paha ayam bumbu tepung menyerbu lambung kanak kanakmu sebagai sampah yang dilesakan ke dalam lapar negara negara dunia ketiga yang mabuk bahasa iklan dan ekstasi yang menjungkirbalikan kepala hingga di bawah telapak kaki para monster yang telah menciptakan frankenstein dan domba dolly berkepala manusia di pesta pora membunuh angka angka data statist…

NARASI ANJING YANG MENELAN BOM

seorang anjing menelan bom hingga perutnya tak lagi lapar karena seekor manusia yang memeliharanya tak memberinya makan dan menggigitinya setiap hari hingga kuping mata dan kakinya kudisan seperti kutuk lepra yang mewabahkan hantu sebagai ketakutan dan kengerian yang memucatkan wajah berjuta juta ekor manusia yang takut bom di seorang anjing itu meledak memuncratkan darah nanah ke mulut mulut mereka yang nganga sejak lama mereka begitu karena tidur malam tak ubahnya sebagai kerja viagra yang mengencangkan kelamin mereka mencari kegairahan hidup di dalam kutuk kerja tak henti henti sebagai sisipus tak tahu berhenti mengelak dari kutuknya sendiri hingga ketika rasa jenuh itu datang mereka gigiti saja kuping kaki tubuh seorang anjing serakus rakusnya hingga anjing itu mengaduh menjerit saat digigit seekor manusia yang melolong penuh kegembiraaan melihat kesakitan yang menyeru-nyeru melambai lambai jejantung hati siapa yang mendengarnya meremang bulu kuduk mendengar jerit anjing yang dit…

BUSH MENGHITUNG HARI SADDAM

buat: ben abel


Dihitung hari-hari Saddam, sebagai tetes minyak di tengah gurun, di cemas kabar. Bush menandai hari, mungkin di sela salju dan gemerincing bel. Hari-hari yang mengkhawatirkan

Kuterima suratmu, dari negeri jauh, menerbang di antara putih salju: mungkin akhir tahun ini...

Lalu kubayangkan rudal meledakkan kota-kota, dentumnya terdengar: buuuush! buuuush! saaaaaaaad daaaaaaaam! Kepiluan yang sama akan terdengar. Seperti Kuta, Kandahar, Sarajevo, Sabra Satila, dan negeri yang kau tulis di buku harian, dengan airmata. Dengan airmata

Kutulis sajak ini. Mengingat surat yang kirim saat itu: mungkin akhir tahun ini...

Malabar, Desember 2002


Contoh Puisi Kehidupan di Kota Jakarta

DI BAWAH SINAR LAMPU MERKURI
: bersama ompie, dodo, tulus dan irman

Di bawah sinar lampu merkuri, Jakarta yang membuat usia sia-sia di jalanan macet, dicekam ketakutan kapak merah, di tatap kanak yang menyergap kita dengan ucap memelas: oom, saya belum makan oom. Tapi yang terbayang adalah bau lem menyengat dari kaleng aica aibon, deru play station.

Tapi mungkin kita harus menjadi batu, mengeraskan hati, sepanjang jalanan berbau busuk dari got yang hitam warna airnya. Di kerling perempuan malam yang menggoda dengan jeans dan kaos ketat membalut tubuhnya.

O malam di bawah sinar lampu merkuri. Kita memintal angan, menuang jejal kesal, ke dalam benak sendiri. Ribuan kata menikam di dada menambah nyeri. Tertimbun dalam mimpi malam ini. Buruk sekali.

TIM 18 Desember 2002, Malabar 19 Desember 2002



SAJAK IA YANG MEMBAYANGKAN DIRINYA YANG MISKIN

ia membayangkan bagaimana seseorang itu duduk di sebuah museum dan menulis tentang orang-orang miskin di sekelilingnya seperti ia yang miskin dan harus dipinjami uang terus menerus oleh sahabatnya yang ingin agar buku itu selesai dan ia terus membayangkan tentang rumahnya di desa yang jauh dan ia tidur di kamar yang sempit di sebuah rumah yang disewa-sewakan kamarnya yang berbau apak dan bau alkohol murahan serta sedikit muntah dari mulutnya semalam saat ia membayangkan bagaimana mungkin seorang kelas menengah dapat menulis tentang derita dan kemiskinan para buruh yang bekerja di antara bising deru mesin di antara modal yang tak menghitung tenagamu selain sebagai kelipatan keuntungan rente bagaimana mungkin ia hidup dengan tenaga yang terus dihisap dihisap oleh para pemodal yang menyeringai di kamarnya yang hangat dekat tungku besar di saat salju turun tiba di saat loncengberdentangan dari gereja yang megah mengingatkan liburan akan tiba bagaimana dengan hadiah untuk anak-anak dan is…

KAU TELAH MENGHINA!

kau telah menghina seorang penyair yang tak mampu membayar ongkos taksi ke tempat sebuah pertunjukan dengan perut lapar karena habis puasa seharian dan tak kau sediakan seteguk pun minum bagi penyair yang datang terlambat dengan muka penuh keringat karena harus berputar-putar di kota jakartamu yang bikin sesat penyair yang tak mengerti tipu daya ibukota. ah jakarta, mengapa banyak orang betah tinggal di perutmu yang tak kenal belas kasihan.

kau telah menghina penyair yang tak punya uang untuk membeli makan minum bahkan ongkos untuk pulang ke rumah kostnya. kau sungguh-sungguh tak tahu diri memaki dengan nama tak jelas siapa dirimu. siluman yang orgasme berulang kali dengan wajah bengis dan kepala bertanduk menuding ke arah penyair yang kau hinakan sebagai orang miskin yang menginjak gedung mewah dengan perut lapar tapi masih membacakan sajak dengan penuh gairah.

kau telah menghina penyair itu. sungguh kau telah menghinanya! dengan demikian keji!

depok, 23 Desember 2002



Contoh Puisi Gang-gang Jakarta

BERULANG KALI AKU TERSESAT DI JALAN DAN GANGMU, JAKARTA!

jakarta tak menyambutku dengan ucapan selamat datang, selain dengan hardikan preman di 100 m dekat terminal pulogadung. mungkin aku teramat lugu, hingga diseretnya aku dan dimintanya membayar bedak yang dicoretkan di mukaku. bangsat!

kemarahanku meledak (mungkin tak pernah kau bayangkan bagaimana aku semarah itu). tapi rasa kasihan muncul juga, saat polisi memasukkan preman itu ke kamar tahanan.

berulang kali aku tersesat di jakarta. berputar-putar menaiki bis kota, bajaj, ojek, taksi, mikrolet. pengamen, pedagang asongan, peminta-minta, pemaksa (sambil membawa secarik kertas di tangan, dia berteriak: saya baru keluar dari penjara, daripada saya jadi perampok, berilah saya sedikit rezeki anda). ah jakarta, jakarta, aku tak pernah betah hidup di jakarta. jakarta bukan untuk seorang pengalah. jakarta milik para petarung!

selamat tinggal jakarta, karena aku bukan petarung. selamat tinggal!

2002



Label

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers