Postingan

Menampilkan postingan dari 2003

Reportase Ersa

pada mata yang terkatup, tak ada yang sempat dilaporkan. lewat reportase. tentang rentetan tembakan. juga asin darah keringat dan airmata yang tersia di setiap pertempuran.

tapi mungkin sempat kau catat. dengan kalimat. teralamat pada segala hakikat.

Ada Apa dengan Hujan

ada apa dengan hujan? selalu membuatku merindu puisi. hingga jemari menari di tempias air. mungkin demikianlah puisi menjadi kutuk dengan segala kenang dan mimpi.

Mungkin Engkau Sisiphus Yang Berbahagia

:h.a.

mungkin engkau sisiphus yang berbahagia. memanggul batu di punggungmu. dan menyebutnya sebagai rindu. mungkin pula cinta

dan kau gulirkan batu itu. dari puncak gegunung puisi.

mungkin engkau sisiphus yang berbahagia. kau dengar? camus tertawa.


Di Penghujung Tahun

di penghujung tahun. mungkin ada yang membaca. huruf dan angka. pada mata. semburat kembang api. atau redup mengelam dini hari.

tapi mungkin ada yang menanda. gurat pada wajah. menua. usia tersia-sia

atau tak ingin diingat lagi tentang segala kenang juga harap yang diucapkan perlahan. pada hiruk tiupan terompet.

karena esok dan hari ini sama saja. tiada beda




Dan Kita Menghitung Waktu

pada titik-titik hujan dan embun di kaca jendela kita menghitung waktu. betapa cepat. hitungan usia. helai rambut memutih. sedang di seberang jalan kanak-kanak berlarian dan menari di bawah hujan. aku tatap diriku mengalir bersama air hujan. ke dalam gorong-gorong. waktu

Mungkin Engkau Ingin Menari di Bawah Hujan

mungkin engkau ingin menari di bawah hujan yang menderas di luar hingga lumpur menyipratnyiprat ke tubuhmu

mungkin engkau ingin menari dengan gemulai tubuh dan hentak tak henti henti kaki dan kepala

dan suaramu o suaramu menyeru penuh rindu bersaingan dengan geletar halilintar pekikan pedih perih ke langit kelabu

Mungkinkah Puisi

mungkinkah puisi akan membuatnya abadi. katamu sambil menulisi hari demi hari. tapi ia tak pernah membayangkan bahwa ia ingin abadi. karena waktu. karena waktu. katamu

dan engkau ingin melukis tentang cahaya bulan yang jatuh di tuwung arak seperti lipo yang menulis puisi dalam mabuk dan sepinya di bawah purnama bulan

mungkinkah puisimu akan abadi. katanya. sambil menghunjamkan sebilah pisau tajam ke jantung kiri.
Apa Yang Kau Cari



apa yang kau cari, katanya sambil melempar bebatu ke kali yang jernih ---seperti airmata yang tiba-tiba mengucur dari bebatu di balik pepohon dan semak-semak yang ingin kau tadahi dengan jemarimu-- tapi sebaris kenangan tersangkut di bebatu yang lain. mungkin pertanyaan itu, tentang apa yang dia cari. engkau bertanya suatu ketika. kepada mereka yang merayakan kepedihan. dengan kata-kata. di sebuah gema. yang berulang juga.

Mungkin Engkau

mungkin engkau tak ingin lagi menulis puisi karena kata-kata selalu saja membocorkan rahasia yang coba kau simpan di palung terdalam dadamu

mungkin engkau tak ingin melukai siapa pun
dengan kata-katamu

dan puisi berdiam berkecamuk
di sunyi sendiri

Mungkin Engkau dan Hujan Itu

mungkin hujan yang datang sore itu dengan rimisnya yang lembut membuatmu teringat pada sebuah puisi atau sebuah wajah atau sebuah kenangan yang mungkin pernah ingin kau lupakan tapi sapaan demi sapaan (seperti saat itu engkau merasa rimis hujan menyapamu dan menanyakan kabar puisi) membuatmu teringat lagi

dan engkau termangu pada sebuah puncak sunyi puncak bunyi puisi

mungkin ada yang merindukanmu mungkin disampaikan lewat kata-kata pada kawat mungkin juga udara atau mimpimu

tapi mungkin ingin kau ingin lupakan segalanya melupakan segala hiruk pikuk dunia yang membuatmu mual dan muak

dan engkau termangu setiap kali puisi menyapamu

Sebagai Kau Temukan Rumah Yang Lengang

:candylam

sebagai kau temukan rumah yang lengang. sunyi kata-kata. demikianlah puisi. menemukan puncak bunyi.

Di Beranda Engkau Membaca Puisi

: labibah zein

Di beranda engkau membaca puisi dari mata kanak-kanak atau cahaya matahari yang tersangkut di rambut penyair. Di negeri jauh yang menanggungkan rindu dan mulai menulis tentang waktu yang berangkat ke arah senja. Mungkin tak ada yang sempat menanyakan tentang alamat ke mana akan kembali. Karena di mana pun adalah perjalalan untuk pulang. Sebagai seringkali ditelusuri jejak peta dengan airmata. Di mata kanak-kanak ingin kau temukan negeri itu. Di beranda engkau membaca puisi. Sebagai cahaya matahari senja tersangkut di rambutnya.

Sajak-sajak Untuk Hasan Aspahani

Mungkin Ada
:h.a

Mungkin ada yang mengendap. Di suatu malam. Saat rimis tiba. Menjengukmu. Saat engkau tertidur. Dan kata-kata itu tersusun. Dalam mimpimu. Tentang ia menjejakkan kakinya. Di tanah basah. Di halaman rumah.

Mungkin ada yang menjengukmu. Di dalam mimpi. Saat engkau coba menyusun kata-kata. Seperti malam itu. Engkau demikian merasa ada yang melintas di tengah rimis.

Mungkin ada yang menulis. Menyusun mimpi-mimpi. Di suatu malam. Setelah menjenguk ke dalam tidurmu.

Mungkin engkau pun menulis suatu ketika. Tentang jejak di tanah basah. Tentang Aku yang menjengukmu. Di dalam puisi itu.

Malang, Nopember 2003


Sebagai Kau Setiai Puisi
:h.a

Sebagai kau setiai kata-kata. Demikian penuh cinta. Kau coba menelusur kedalaman makna rahasia. Kegaiban puisi. Hantarkan bayang-bayang. Dari mimpimu. Pada saat entah. Mungkin rasa nyeri yang hendak kau bisikkan. Di setiap telinga. Atau berucap kepada dirimu sendiri. Demikian lirih. Demikian liris. Demikian samar. Serupa kabut tipis. Antara ri…

Sajak-sajak Kesedihan

HANYA ENGKAU. HANYA

Telah diserahterimakan. Seluruh nasib. Ke dalam genggaman. Biarlah segala menghambur. Menujumu. Sebagai serpih. Debu yang memburu. Menyeru ngilu. Demikian diri terlunta. Pada tatapmu.

Tak berdaya diri. Tak

Hanya engkau. Hanya. Menggelisahkan aku. Dengan sepenuh rahasia kehendak Dan aku? Terhisap ke dalam tubir. Gelegak. Lumpur api. Marahmu.

Tak berdaya diri. Tak.

Terlontar aku. Terjerembab. Dalam takut gundahku. Menatap wajahmu.

Malang, Nopember 2003


MASIHKAH TERSIMPAN AIRMATA

Masihkah tersisa airmata. Bagi kesedihanmu lain kali. Ataukah telah habis. Tinggal pias wajah dan niat bunuh diri. Yang telah coba kau lupakan. Yang telah coba kau singkirkan.

Telah ditelusur peta demi peta. Perjalanan menemu cinta. Berbekal airmata. Berbekal keluh kesah. Tak pernah kau temui juga. Dimana cinta. Dimana.

Masihkah tersisa airmata. Bagi kebahagiaanmu lain kali. Ataukah telah habis. Tinggal diri merutuki nasib sendiri. Sebagai habis harap. Dihisap rebak dada.

Telah dilewati deti…

(MUNGKIN) INILAH PUISI

(MUNGKIN) INILAH PUISI

Sebagai puisi
Kata tak sanggup merangkumnya

Malang, Nopember 2003


SURREALISME AIDAN

Bubur kata-kata. Gelegak. Bergumpal darah digugurkan dari rahim. Waktu berkelonengan. Jam leleh. Salvador. Di mana ditemukan perempuan yang mencinta. Engahmu. Tapi para ibu berlari ke utara. Kau lecutkan api. Menggeletar jerit. Mimpi senggama. Aspal jalanan. Nyawa yang dihembus ke langit. Lihat aku bertanduk. Serumu. Sebagai kepahitan yang tersengal. Telur-telur meretak. Lendir. Seperti bau apak. Sperma yang membasi. Kebisuan. Tapi mungkin juga pekikan. Seperti bayang kematian. Bacakan kembali manifesto. Bacakan kembali. Rengekmu. Kegelapan membelit. Akar-akar sejarah. Juntaian peristiwa. Membentur kaca. Serpihan tajam memburu matahari. Ambyar. Byar. Angslup. Terhisap dalam gelegak bubur kata-kata. Sirna. Cuma. Sia.

Malang, Nopember 2003



FRAGMEN POLLOCK

Jemari menari di udara. Warna-warna menghambur. Muncrat. Meleleh. Abstraksi. Guratan kegelisahan. Lukisan tercipta dari kedalama…

UPACARA EROS

:randu & rano

dan engkau menangis. karena cinta, katamu. mungkin eros, tepatnya. sebagai ledakan yang tak henti mengguncang dada. membuka segala rahasia semesta. dalam tarian: tawa dan luka.

dan engkau menangis. menelusur baris-baris yang dikekalkan. mungkin dongeng dari masa lalu, lelaki yang ingin mengabadikan riwayat gelombang lautan.

dan engkau menangis. dan kalian menangis. di detik yang senyap.

TAKWIL SAZANO

lalu kau kau berjalan mungkin berlari mungkin mengendap sambil menebar ribuan tanda mungkin serupa mimpi sebagai kebenaran pada terjemah yusuf dan ibrahim karena suatu ketika kau biarkan dirimu serupa kendi yang haus hendak akan air karena pengetahuan bemula dari mimpi mimpi yang dijelmakan mungkin dari dongeng sebelum tidur serupa bayang yang menghablur antara mitos dan nyata mungkin serupa setengah kekosongan mungkin serupa setengah keberadaan dan engkau merasakan diri adalah perempuan yang ingin meneguk embun dari bulan emas matahari intan permata dan belas kasih manusia tapi kau ingin menjadi pecinta berjalan mencari tuhannya dalam tubuh lelaki melintasi kata huruf yang berjejalan sebagai baris-baris yang dikekalkan pada sel-sel di lubuk jauh kesadaranmu yang utuh di palung terdalam rahasia waktu yang meleleh dan berhenti di titik diam. dirimu

PADA RAKAAT TERGESA MASIH KAU DENGAR RINDUKU?

kekasih masih kau dengar kupanggil namamu pada rakaat-rakaat tergesa?
karena dunia menyihirku dengan kesibukan. hingga tak kuliat seribu
bulan bercahaya benderang. di waktu takdirmu.

ampuni aku. bukan berarti aku tak merindu.


KEKASIH YANG KURINDU

kekasih bagaimana harus kuungkapkan geletar rindu ini menemu cintamu
seluruh sedang resah ini menggigilkanku karena sepertinya engkau
menatapku demikian beku ke dalam lubuk dadaku

o adakah yang lebih selain cintaku padamu kekasih

engkau demikian pencemburu, memburuku dengan tatap matamu ke segala
penjuru karena masih lalai diri

o mula akhir cinta jangan kau pergi dari hidupku biar kunyalakan
sepanjang waktu hingga di laut cahayamu cinta melarut bersatu: SATU.
o engkau segala tuju inilah daku!

inilah resahku! inilah gelisahku! sebagai tangis menyerumu penuh
rindu menanti dekapmu merengkuh redakan tangis perih lukaku

malang, nopember 2003




SAJAK YANG KESEPIAN

:ts pinang

sebagai sajak yang kesepian ditinggalkan pergi puisi aku tinggalkan
segala kenangan hingga kenangan menjadi sajak yang kesepian bukankah
puisi adalah mula sepi mungkin juga nyeri yang kita cari ujarmu
dengan sebilah kata yang ditusukan ke dalam jantung sunyi dan resah
yang tak henti walau telah didayungkan membelah arus laut gelombang
hingga dermaga hingga pelabuhan di mana cinta memanggilmu dimana
kekasih menyambutmu tapi kau ingat lelaki tua itu yang ringkih dan
penyakitan terus mengejek maut dan menolak daratan karena gelombang
lebih memberi gairah kehidupan walau yang ada hanya sajak yang
kesepian


YANG BERDIRI DI PERSIMPANGAN

buat: t & r

tentukan pilihan itu! angin menyeru. walau kau tahu hidup adalah pilihan. tapi kau masih tetap meragu. gamang. bimbang. menimbang-nimbang.

tentukan jalan kemana kau akan menuju! matahari menyeru. walau kau tahu hidup adalah pilihan. tapi kau masih menekuri masa lalu. dan melihat ke belakang melulu.

tentukan saja! tentukan saja! burung-burung ikut menyeru. walau kau tahu. walau kau tahu. tapi kau tetap berdiam di persimpangan jalan itu.

YANG KEHILANGAN KATA-KATA

buat: dodi moyang

kata-kata lenyap
pada tatap
o, masihkah penyair mencari kata
untuk melukiskan wajah puisi
yang dijumpa
di puncak birahi cinta
ekstase
dipukau kemilau
sebagai keindahan

kata-kata lenyap
lebur
pada takjub

memandang wajahnya
yang tak terkata

TAPI AKU LELAKI YANG GIGIL SENDIRI

tapi aku lelaki yang gigil sendiri
purnama lenyap di balik gerhana
kekasih diri lenyap dalam gundah dada

hingga kutanya bayang serupa diri:
o usia ke mana disia?

tapi aku lelaki yang gigil sendiri
purnama tak terlacak oleh mata hati
diri sembunyi dalam gelap kata-kata

hingga kutanya bayang serupa diri:
o usia sampaikah nanti pada hakiki

di pekat gelap gerhana jiwa
berhamburan piala: pecah!
menyerpih menghambur

menyeru dengan tangis
lelaki yang gigil sendiri
tak mengerti
apa yang terjadi

dalam diri

malang, 3 oktober 2003

Dimana Puisi Kiranya

buat: datok kemala

dimana puisi kiranya di dalam diri di luar diri atau di keluasan semesta aku menari di dalam sepi dan terasa puisi ikut menari bersamaku serupa rummi menari mendedahkan diwan dan rubaiyat dalam ekstase rindu dan mabuk kepayang cinta tapi o dimana puisi kiranya dimana telah diteguk berjuta kali anggur dari piala yang sama tapi tak kunjung usai nyeri mencari o jika tak ada di dalam diri kemana lagi kan dicari alamat untuk kembali

Tiga Bait tentang Puisi

1.

aku rebah dalam lelah
kata kata telah
menyesatkanku
jauh ke dalam rimba gelap
puisi
kemana kita kan pergi?
diri sendiri terluka
oleh tanya sendiri
demikian nyeri

2.
mungkin aku harus mulai
melupakan puisi
dan tak merindukannya lagi
karena......

3.

puisi mungkin telah tak ingin dilahirkan lagi
lewat jemariku
biarlah karena kutahu ia hanya ilusi
yang ingin abadi

PERINGATAN

jangan lagi membaca puisi
nanti kau semakin tersesat jauh

puisi lebih berbahaya dari candu
lukanya lebih parah dari goresan belati

jangan coba-coba membaca puisi
apa lagi membaca tulisan ini

sebagai puisi
!


TIBA TIBA SAJA

tiba-tiba saja aku ingin merobek semua kertas yang pernah kusebut puisi, membakar dan menghanguskannya. hingga ia tiada. puisi yang tiada. amboi indahnya. puisi yang tiada. tiada yang puisi.

(tapi pembunuhan itu gagal: puisi bangsat kapan kau mampus!)

tiba-tiba saja. aku tak ingin peduli. dengan segala macam puisi.
awas! kalau kau bilang ini puisi....

Upacara Pengap Dada

1.
kupu-kupu robek sayap
hinggap di lengkung alismu

yang hitam

saat hari mulai gelap,
dikerjap mata

harap demikian lindap. pengap

2.

tak ada keteduhan bagi pengap jiwa
telah ditandai dengan asin darah
sebagai peta mula dan akhir airmata

karena gelisah tak pernah takluk
bahkan pada teduh matamu.....

Musim Musim Yang Menyelinapkan Airmata

seperti selalu kukabarkan padamu
tentang musim musim
yang menyelinapkan airmata
di sela sela puisi

adalah gerimis
yang kau lukis
dalam kanvas rindu

karena sesungguhnya
cinta demikian tabah
menerima luka derita

seperti engkau
seperti mimpi itu

diembun senyummu

Ya! Ya!

ya! ya! demikianlah hidup!
keras dan kejam

dan aku?
kerap menjadi pengecut

berlari dengan angan mimpi sendiri!

Upacara Kosong

jam berdetik. dan aku?
berhenti di titik nisbi

Upacara Sepi

secelah kekosongan tinggal di pinggir halaman. juga jeda antara baris bait. dimana disinggahkan sunyi. namun gaduh juga yang bertalu. setelah lembar-lembar kosong terisi takdir sepi. mungkin telah ditera namaku di situ. juga waktu. saat berjumpa. saat terlunas segala rindu. menatap wajahnya yang cahaya. hingga lebur diri. dalam arus gelombang cahaya lautan cahaya cintanya semata. mungkin, biarlah sepi mencari bunyinya sendiri. karena kutahu telah dimainkannya denting dalam bening hening. dan diwarnainya malam dengan hitam lengang. hingga terasa setusuk sepi mememerihnyeri di dada kiri. di jantung hati. sepisau sepi menikam tikam hingga sampai puncak nyeri merindui kekasih diri. di kilau tajam sehunus sepi tak henti menghunjam ke dalam dada sendiri. o, demikian nyeri ini rindu. mencari dan mencari. ke mana kekasih diri sejati? ingin kutemu sejati. dimanakah engkau wahai kekasih diri. hingga kutemu sejati. cinta sejati. lunaskan nyeri rindu di hati yang ditikam sepi.

Upacara Amnesia

sepertinya aku telah melupakan warna-warna. apa warna untuk rindu apa warna untuk cinta? karena guruf-huruf berguguran dari ingatan tentang puisi yang digugurkan dari rahim waktu, karena tiada kekal kata tiada abadi segala yang diingin selama. tapi masih ingin kutulis seisak yang tersisa dari sobekan kenangan di lipatan yang tak terbaca, mungkin airmata. kutulis diam-diam, selagi amnesia, selagi terlupa, hingga berdenyar segala puisi, mungkin tentang kesedihan yang teramat dalam. hingga berlinang dongeng puteri duyung, atau bintang yang teramat biru, di matamu, karena di rembang senja ditawarkan segala bimbang segala gamang

Upacara Abu & Yang Meledak Dalam Dada

Upacara Abu

Api yang dinyalakan telah mulai membakar. Lidahnya lebih tajam dari pedang. Amuknya lebih rongkah dari naga. Meliuk-liuk. Menjilati segala yang ada. Gemeretaknya melucuti keberanian. Menjadi keharuan. Mungkin pula ketakutan. Atau kecemasan. Karena biru hitam kuning merah menjela-jela. Dari wajah kusam. Dari mata yang meliar.

Inilah api. Mengamuk di dalam diri. Merobohkan segala.

O, diriku telah arang. Diriku telah abu. Ditiup angin ke segala penjuru. Menjelmalah burung-burung yang mencericit memekik menyeru namamu. Namamu.


Yang Meledak Dalam Dada

1.
ada yang meledak dalam dadaku mungkin bom waktu yang kusimpan telah sampai pada tiktaknya di detik nadir di titik akhir hingga puing puisi berserak menyerpih menjadi puing menjadi abu menjadi debu

2.
dijalin kabel dan mesiu dalam dada agar hilang nyeri tak henti menusuki jantung hati dunia yang kehilangan nurani kehilangan cinta sejati diri nyeri diri hingga geletar menjelma gelegar hingga tumpas segala nyeri merindu yang …

Puisi Tentang Puisi Berbicara Tentang Puisi Juga

Bahkan

bahkan aku tak ingin menjadi huruf, karena huruf masih mengingatkanku
pada puisi, bahkan...

lalu ingin kututup buku catatanku, kurekat dengan isolatip, agar tak
kukenang lagi, huruf-huruf itu yang merayu dengan matanya yang
meredup sayu, bahkan...

jangan sebut aku penyair, karena aku hanya debu, yang menghampiri
telapak kaki-Mu


Mungkin

ini mungkin bukan puisi sayang, karena ia telah kupenjarakan dalam
angka-angka rahasia, setelah tak mungkin lagi aku membunuhnya. tak
mungkin lagi. karena ia sebagai lazarus yang terus bangkit dan
bangkit dari balik kubur. maka kukunci saja ia dalam lorong rahasia.
walau aku kerap merindukannya.

ini mungkin bukan puisi sayang, mungkin bukan, bukan mungkin, bukan
bukan, puisi mungkin, bukan mungkin, bukan?

mungkin...



Puisi yang Kubunuh Itu

puisi yang kubunuh itu suatu ketika mendatangiku
ia menyeringai dengan gigi yang tajam

memburuku

di tangannya yang berlaksa jumlahnya
tergenggam gergaji, palu, kapak, celurit, m 16, belati, granat, dll

me…

Hujan di Dalam Puisi

sebagai kenangmu pada daun daun jatuh di pelataran dan hujan yang mengingatkan pada airmata mungkin sebagai ketulusan yang mengalir menyiram ranggas rerumputan adalah aku yang menulis puisi sebagai patahan-patahan yang menyilang dalam dada sesak tak bertanda baca karena rindu tak terucap dengan kata-kata mungkin juga cinta yang tak tereja bahkan dalam puisi yang demikian sederhana demikian bersehaja tentang hujan yang diam-diam membasah di sebuah siang di musim kemarau mungkin karena demikianlah cinta mengalir menyiram ranggas rerumputan dalam dada...



Anak Anak Yang Melolong Di Malam Kelam

anak anak yang menangis dan melolong di malam kelam adalah kanak kanakmu yang tak bisa tidur sebelum menghisap bau aica aibon hingga rasa nyeri dan mimpi buruk lenyap melesat sebagai bintang yang berpendar pendar di langit tinggi sebagai harapnya yang tak pernah sampai dalam jerit desah lagu dalam serak suara dan kecrek tutup botol di bis yang pengap di kotamu yang pengap dan tak berbelas kasihan...


Membunuh Puisi

serombongan orang berbaju hitam mengiringkan pemakaman puisi yang telah kubunuh di puncak malam yang kelam yang hitam di ulu hatinya kutikam demikian dalam hingga darah membuncah hingga matanya mendelik hingga tinggal aduh hingga tinggal kulihat wajah puisi pucat pasi tak lagi berdarah karena darahnya membasah di seluruh lantai membasah meluap hingga membanjir ke jalan jalan dan orang orang berteriak gembira karena puisi telah mati di tanganku pembunuh yang kesepian dan telah kesal dengan puisi yang seperti kutuk terus mengiang di telinga terus menghantu di dalam kepala dan menyuruhku mendorongnya ke sebuah bukit dan menggulirkannya lagi seperti sebuah esei tentang peristiwa bunuh diri yang bilang sisipus bahagia dan kubunuh saja puisi karena ia rupanya bahagia


Sampai di Titik Ini

Sampai di titik ini sampai
Di detik yang terus melaju

Tak henti

Sepanjang usia direntang
Makna apa yang tereja

Tak henti

Membusur bayang-bayang
Mungkin maut yang mengendap

Tak henti

Di lubuk rindu tatap matamu
Lamat menyapa pada ingatan

Tak henti

Berjalan ke arah senja
Hingga sampai di garis gelap terang

Tak henti

Mengeram nyeri dalam dada
Karena rindu kembali rindu

Tak henti

Hingga kau sambut aku
Dengan peluk

Di hariba Cintamu

Depok, 8-10 Juli 2003


SEPI JUGA KIRANYA

: h.a

1.
sepi juga kiranya hadir dalam puisi berdiam membisu pada huruf yang kehilangan bunyi hingga kata-kata gugur dari rahim waktu karena sunyi kiranya....

2.
di dalam sunyi menetas puisi mencericip mencari mula kata di mana akhir kata dimana karena sepi gigilkanku dalam beku waktu

Puisi Untuk Kawan Seperjalanan

33 PLANET 33 MATAHARI 33 GALAKSI
: njibs

33 planet 33 matahari 33 galaksi ingin kugambar di hari ini sebagai ingatan tentang ketulusan cinta dan rindu yang mungkin mulai dilupakan karena ombak badai menerpa hari-hari hingga tak sempat dialamatkan padaku huruf-huruf yang kubaca sebagai puisi tapi ingin kulukis 33 planet 33 matahari 33 galaksi yang berputaran dalam semesta sebagai tanda aku mengingat sebuah ketulusan yang kusimpan di relung terdalam di dadaku


DI PERSIMPANGAN JALAN
:hl

1.

tapi mungkin engkau telah dikutuk menjadi orang yang sunyi memandang debu menumpuk di sudut dengan udara dingin dan dendam yang mengabukan bangunan dalam dada karena o tak kau pahami isyarat yang kusampaikan dengan demikian getir lewat sorot mata dan kibaran bendera yang sobek sobek diterpa angin ah engkau demikian keras kepala. dan kita bersimpang jalan sampai di sini...

2.

di sepanjang jalan di temaram lampu di dingin malam di sebuah percakapan yang menyimpan pedih masa lalu tentang badai dan salju di …

bagaimanakah membaca isyarat-Mu

allah,
bagaimanakah kudapat membaca isyarat
dari alir darah dan desing peluru

allah,
aku terhuyung dalam tanya
dan gemetar membaca peristiwa

allah,
aku teringat ucap malaikat
di saat adam akan dibuat

: "mengapa engkau akan mencipta makhluk
yang akan berbunuh-bunuh dan membuat kerusakan
di muka bumi."

allah,
bagaimanakah kudapat membaca isyarat
hingga sampai pada jawab rahasiamu

Sulur Sulur Waktu

: ibnu hs

sulur sulur waktu yang merambat di usia kita tumbuh
sebagai kenangan yang menjalar di lelangit rindu
sehingga kata sepertinya menjadikan abadi segala yang
fana padahal mimpi yang datang menyelinap dari
kedalaman laut rahasia mendenyarkan isyarat tentang
maut yang demikian telengas sehingga terciptalah puisi
yang sepi menjadi yatim menjadi piatu menjadi
kata-kata yang menolak kehendak dan kepastian walau
tahu segala tak abadi tapi ia menuliskannya seakan
abadi

Sketsa Tentang Kerinduan

: rull nh

tapi dibangunnya dunia dengan mimpi seperti diangannya cinta demikian
platonik sebagai jarak yang menebalkan rindu hingga beterjunan derai
tangis dari tebing tebing pipi mencurah deras menerjang terjal batu
batu juga karang dimana kau coba menatah nama sebagai tanda bahwa ada
yang pernah merindu pernah ada yang tulus mencinta di deretan huruf-
huruf di rentang masa di titik usia


Karnaval Patung di Depan Stasiun Malang

: ki bedjo

mungkin pernah kau bayangkan patung di depan stasiun itu bergerak
seperti arak-arakan karnaval kenangan di masa kecil dengan genderang
dan letusan karbit dari bumbung bambu dan wajah yang dicoret-coret
merah putih yang meleleh dari dahi ke leher ke dada seperti juga
mungkin kau bayangkan dirimu yang menunggang kuda itu diponegoro atau
sudirman yang kau tatap penuh kekaguman di bundaran di terik matahari
dengan mata kanakmu yang membayangkan mereka bergerak berarak dalam
iring-iringan itu...

BERMAIN KATA BERMAIN MAIN

BERMAIN KATA BERMAIN MAIN

dari atas genteng kulihat hari demikian genting orang orang berteriak gantung kepada pengkhianat yang menggunting di dalam lipatan seperti gaung pekik di dalam gentong kosong

hari demikian panas mungkin kerbau kerbau akan pergi berkubang tapi aku duduk saja di atas bangku ingin membuat sajak berkabung mungkin tentang bunga bakung tapi kepalaku terasa kosong seperti kelapa yang terkena hama karena merasa petaka betapa menyiksa

cobalah hitung hutang kita seperti kuda yang duka bermain dadu seperti duda ditinggal lari bini dan mengoceh mungkin hantu mungkin tuhan hingga kaki terasa kaku karena kuku membiru ngilu mata meneteskan perih amat pedih hingga teringat mati

ah, kata jadi gado gado campur menggoda-goda lelaki sendiri di kota yang riuh dengan otak bebal berdiam seperti katak dalam kotak menerima kutuk sebagai puisi yang diketik disela kotek ayam dan kenangan yang membuat tak berkutik

karena noda diri merasa dina di deru suara adzan dan darah mend…

4 Sajak (Puisi) Lama Bagus Indah Keren

ENGKAU YANG TAKUT MEMBACA ISYARAT

engkau demikian takut membaca isyarat. tapi kemestian akan tiba juga. walau kau tolak. walau kau kata tak hendak. karena hati yang tak sepenuh niat. menggamangkan langkah. memutar dirimu memutar mutar. dalam lingkaran memusar. di peta labirin tanya jawabmu sendiri. o, engkau yang menyimpan dendam amarah dan rindu cinta di hati. ke mana kau akan pergi. menuju inginmu sendiri. di peta mimpimu sendiri. atau di rajah nasibmu sendiri.


ENGKAU DAN SEBUAH KEBUN

di taman itu kebun yang dirawatnya sendiri dengan tangannya ditanam pengetahuan yang menggoda dirimu memakan buahnya hingga berlepasan pakaian cahaya dari tubuh dan kau pergi dari taman itu dengan sesal di hati dengan duka di hati karena terusir ke goda demi goda lalu engkau mengembara pada kata kata yang diajarkannya suatu ketika rahasia semesta juga tentang darah yang ngalir dari kanak-kanakmu juga air bah yang melanda negeri negeri para pendosa karena telah dilupa oleh goda musuhmu yang nyata yang m…

Antologi Puisi Nanang Suryadi Terbaik Indonesia Update

KARENA DIKSI

sebagai petapeta yang dilukis menghamburkan jejak lama
dari riwayat sebuah ingatan

hingga waktu merapat ke titik nol

sampai dentingnya yang menggaung menjadi senyap lenyap
dalam sajak tak selesai

karena huruf membisu dalam rahim pertapaan

menumbuh tumbuh dalam diam dalam sunyi
memandang diri semakin asing

pada rambu rambu di jalanan pada buku buku dan kitab suci

layaknya puisi aneh yang ditulis dari arus deras mimpi
mengamuk tak tahu mau meloncatloncat tak tahu ingin menarinari tak tahu hendak

bolak balik kata berbolak balik menemu kembali kata yang sama mengulang ulang

baiklah siapkan saja pena deret leburkan kata bergumulah dalam frasa bersetubuhlah dalam kalimat baris dan bait sajak menelusur hingga mula, karena

jadi maka jadilah:

karena rona karena warna karena nuansa karena biru karena hitam karena jingga

karena waktu karena senja karena petang karena malam karena fajar karena detik karena jam karena hari karena minggu karena bulan karena musim karena tahu…

PENAT

demikian penat membilur hari hari lelah lungkrah tak berdaya diri tak tegar diri goyah lemah melayang layang mengawang awang langkah menggamang gamang o mengapa diri mengapa tak napak jejak tegak menapak tapak di bumi sendiri tak gamang menggoda goda tak ragu mengganggu ganggu o diri ke mana akan pergi dimana niat ditancap dengan sepenuh hati sepenuh itikad diri menempuh tempuh jejalan bebatu terjal mendaki menaik turun lembah gegunung ngarai curam o diri menjejak riwayat menelusur akar hingga ke inti di sunyi sendiri di gelisah sendiri di amuk sendiri di pekik sendiri di gumam sendiri di maki sendiri di rindu sendiri di geram sendiri di amarah sendiri di bisik sendiri di diam sendiri meledak ledak dalam dada sendiri meruah magma meruah lava meruah mengalir alir ke engkau engkau engkau o mula mula o akhir segala mula mula segala akhir tak bermula tak berakhir melingkar lingkar rahasia tanya jawab melingkar lingkar jawab tanya rahasia melingkar lingkar o mampus diri diregang sekarat m…

KABUT

kabut menari nari di mata matahari menari nari kabut melindap lindapkan cahaya ke gelap terang hari di batas batas mimpi mimpi sendiri di batas batas lelaku sendiri sebagai sepi merajam rajam diri merajam tikam hingga luka diri berdarah diri melolong nyeri melolong tak henti ke langit tak bertepi membilang duka membilang suka membilang bilang o siapa bertahta dalam diri siapa mengujar dalam diri memaki maki menyumpah sumpah serapah ke segala arah tak ditemu apa tak ditemu mengapa tak ditemu sebab tak ditemu kata tak ditemu kalimat tak ditemu makna tak ditemu hakikat tak ditemu karena tak ditemu arti kabut menari nari di mata hari hari menggelinjang meronta ronta memuntah puntah gelegak dipusar arus di dalam palung rahasia segelap mata matahari menari kabut di matanya

Depok, 13 April 2003


Contoh Puisi tentang Puisi

KUTUK PUISI

dapatkah ia lepas dari kutuk puisi
ke mana ia akan berlari
puisi terus memburu
hingga ambang mati

Contoh Puisi Imaji

IMAJI

dia seorang perempuan

"karena ia adalah imaji. sebagai ilusi. yang telah memabukanku. maka
kuterima bayang-bayangnya menyetubuhi diriku."

dia seorang perempuan

"karena demikian indah kenangan itu. walau tak sampai. walau. maka
aku tolak saja segala kenyataan. yang tak seindah imaji. ilusi yang
memabukanku hingga kini."

dia seorang perempuan

"karena ia adalah imaji. sebagai ilusi. yang telah memabukanku. maka
akan kuusir ia. jika datang sebagai daging segar lelaki!"

dia seorang perempuan
di imaji lelaki



PENGEMBARA MALAM
: heriansyah latief

pengembara malam penggembala angin pejalan sunyi merindu cinta di
dekap rembulan yang sempurna cahayanya disebutnya sebuah nama nama
yang melintas di lintas hidupnya o kenangan o harapan o kenyataan o
menikam dadamu hingga darah hingga jadi debu yang diterbangkan angin
di sampaikan ke dalam dadanya sebagai rindumu sebagai cintamu sebagai
dirimu yang menyelinap dalam jantung hatinya yang darah





Contoh Puisi Peduli Lingkungan Hidup

TAK LAGI KULIHAT KUNANG-KUNANG

tak lagi kulihat kunang-kunang terbang di malam hari berkedip-kedip
seperti dalam malam kanak-kanakku dulu tak lagi kulihat kunang-kunang
di kota yang penuh polusi ini

orang-orang bilang padaku waktu itu kunang-kunang menjelma dari kuku
orang-orang mati yang di kubur di makam di dekat ladang belakang
rumahku

kunang-kunang beterbangan dalam puisi hasan aspahani, mungkin sheila
suatu ketika bertanya: abah, apa itu kunang-kunang? tapi batam bukan
kampung halaman di pedalamanan

depok, 2003








Sajak Untuk Kawan

PESAN DEBU KEPADAMU

debu. sebagai pesan yang dihantarkan angin kepadamu:
"masih kau simpan rindu itu?"

mungkin waktu
menguji jawabmu




KABAR DARI PERBATASAN

di perbatasan
bayangkan aku harus berdiri sepanjang hari

mengawasi

agar mereka mengerti bahwa aku menjaga
cinta di hati

aku harus di sini, di perbatasan ini

karena masih kulihat sekam sekam membara
membakar diri

diri mereka sendiri




KARENA TANGANNYA MEMERCIKKAN API


kembali kau hitung lembar demi lembar rambut yang mulai memutih apakah kau temukan di situ riwayat derita hingga kau temukan mimpi yang dipecahkan dalam semalam pada matamu yang mencekung pada wajahmu yang semakin tirus kurus karena neraka yang menjelajela dalam dada menghanguskan segala harap yang ditumbuhkan sebagai bunga yang kau siram dan kau bermimpi untuk tumbuh tapi api yang dipercikkan tangannya ke dalam dadamu menyalakan neraka yang menghanguskan segala rindu cintamu hingga



LORONG RAHASIA

kau sibaksibak rahasia di padangpadang datar di semaksemak rerumput i…

KALUT KEMELUT

:ben abel

adalah manusia bicara pada laut karena kalut kemelut tak habis-habis
terus berlanjut semacam serial rambo semacam serial james bond
semacam serial opera sabun sinetron film bollywood yang memutarmutar
tarian di tengah tangis dan tawa yang tak berhenti diputar untuk
mengusir rasa sepi karena kalut kemelut di mana ujungnya di mana
akhirnya menalinali sekujur tubuh riwayat manusia hingga disebutnya
segala hantu karena paranoid yang mengendapngendap di balik sewangi
minyak di tengah gurun dicemaskan masa depan dicemaskan kalut kemelut
akan terus berlanjut seperti dikabarkan engkau pada laut sejuta
takut!


Contoh Puisi Untuk Sahabat

SEPERTI KESUNYIAN
rukmi wisnu wardani & anggoro saronto

seperti kesunyian yang kutemukan di sela sela puisi juga di mata yang
menatap udara malam dan kepul asap rokok terburai dari bibirmu: o
terbanglah gundah terbanglah gelisah terbanglah hingga sampai rinduku
padanya hingga sampai cintaku padanya hingga sampai menyapa di negeri
yang jauh menyapamu dengan sunyiku sendiri kini


Contoh Sajak Demikian Mencinta

YA KARENA ENGKAU DEMIKIAN MENCINTA
: rukmi wisnu wardani

karena engkau demikian mencinta maka akan dipersembahkan segala
hingga ia menyambutnya hingga ia membalasnya membalas cinta yang kau
persembahkan dengan segala penuh rindu pada piala-piala persembahan
di tahta cintanya


Puisi Untuk Cunong Nunuk Suraja, Sahabat Penyair

TAFAKUR
:cunong nunuk suraja

dalam tafakur masih tak henti henti gelisah diri hantam-hantamkan
ombaknya ke karang jiwa tak henti aku menggerung meneriaki cakrawala
hingga habis suara hingga lelah hingga tinggal kosong pasrah menyerah
di arus waktunya!


SELAMAT PAGI JUGA
:cunong nunuk suraja

selamat pagi,
kataku pada matahari,
sepenggalah tingginya.


SELAMAT SIANG JUGA
:cunong nunuk suraja

selamat siang,
kataku pada matahari,

tapi ia sembunyi di balik awan hitam



SELAMAT PAGI JUGA OOM CUNONG

selamat pagi juga oom,
mari kutemani, kata hujan

membasah di rambut dan celana-baju






Sajak Untuk Ibnu Hs, Sahabat Penyair

LEKAS CATAT NAMAKU
: ibnu hs

"lekas catat namaku, sebelum ombak menghapusnya, karena cemburu"

di pasar yang basah di fajar yang rekah kau tulis nama
sebelum ombak menghapusnya, karena cemburu

Puisi Untuk Sahabat Penyair, Hasan Aspahani dan Ibnu HS

Rumah Pasir
: hasan aspahani dan ibnu hs

tapi ia membangun rumah menulis namanya di tubuhku, kata pasir
tapi aku cemburu, kata ombak

ya ya aku juga benci dia, kata angin badai ikut menyela
lalu dirobohkannya rumah pasir dengan deru anginnya

di atas pasir dicoretkan kembali namamu
di atas pantai dibangun kembali istana pasir mimpimu

walau berulang ombak dan angin
bersekutu menghapus dan meruntuhkan

rindu dan cinta itu tetap untukmu


Sebagai Kanvas

: cecil mariani

sebagai kanvas yang merindu lukisan kuas dari jejemari masalalu
menggambar rona merah pipi atau sebagai cinta yang terselip di bait-
bait puisi ingatan tak pudar ingatan tak pudar bayang hingga...



Mengapa Sunyi Juga

: randu anastasia

mengapa sunyi juga yang kutemukan di mata seperti lorong-lorong dalam
mimpi penuh keghaiban riwayat mungkin sebentuk cinta atau rindu yang
hilang alamat di jejak kenangan yang lamat di mana kau gurat nama di
dalam dadamu atau di dalam waktu atau di pasir-pasir yang digoda
ombak dengan deburnya yang tak henti-henti hingga lelah jiwa hingga


Puisi Untuk Sahabat Cecil Mariani

TENGGAT
: cecil mariani

aku lihat engkau
di tenggat waktu
menumpuk segala
kesibukan
di batas waktu
mengejar segala entah mimpi
o, bayang-bayang yang melukis kaca jendela
penanggalan yang tak berhenti
berhamburan ke dalam dada
ruang kosong
mungkin selintas bayang
selalu terbang dari asap rokok
sebuah harap, atau mungkin kenangan
dari masa lalu yang lindap
wajahnya
bikin cemburu waktu
yang mengabadikan segala yang fana
dalam kata-kata
sebagai dilukisnya wajahmu
pada guci
abadi sebagai puisi

Puisi Untuk Sahabat Gola Gong dan Toto ST Radik

KEGHAIBAN PUISI MENGHANTARKANKU

keghaiban puisi menghantarkanku ke dalam mimpi-mimpi di mana golok-golok teracung terhunus menyilang di depan dada mengancam dengan seribu curiga o inikah negeri dimana kekerasan telah menjadi kebiasaan dan hukum takluk pada keberingasan hingga kewarasan disulap menjadi keedanan

keghaiban puisi menghantarkanku ke dalam mimpi-mimpi di mana api menjela-jela dari tubuh di jalanan yang dihajar beramai-ramai dengan pukulan tendangan hantaman dan siraman bensin kemudian api yang menghanguskan o inikah negeri dimana kekerasan telah menjadi kebiasaan dan hukum takluk pada keberingasan

keghaiban puisi menghantarkanku ke dalam mimpi-mimpi….
ah, jangan lagi! jangan lagi, igauku

(aku terbangun dari mimpi dengan keringat mengucur dari tubuhku)

Depok, 10 Maret 2003


MEMBACA RIWAYAT DIRI
: gola gong dan toto st radik

di mana kan kutemukan riwayat diri seperti engkau yang mencari di segala negeri hingga negeri yang terjauh tapi diri ternyata di rumah sendiri di negeri se…

Contoh Kumpulan Puisi Untuk Kawan

SEPERTI KEKOSONGAN

seperti kekosongan di kartu kartu nasib balak kosong katamu membuat iringiringan kematian di jejalalur waktu kartukartu dideretkan seperti kereta yang menunggu perhentiannya sendiri di stasiun engkau menunggu entah melambai dengan tangis yang tersimpan diam diam menghitung jarak dan peluit yang diberangkatkan lewat kartukartu yang dikocok membunuh sepi karena peruntungan diramalkan lewat gelisah yang memasuki mimpi di kala tidur dan jagamu dengan penuh erang mungkin gairah yang mengendap dari masa lalu yang dilukis orang ramai dengan warnawarna kanakkanak yang melepaskan balon di tengah pasar atau memberi makan ikan dengan belalang yang kau tatap berlepasan dari jemari mungilmu belalang yang terbang dan hinggap di kurung burung dipatuk kutilang yang berbunyi tujuh kali perkutut berbunyi kungkongnya di bawah sinar matahari yang demikian takjub kau pandang dengan tatap kosong di kartu nasibmu



AKU TAK TAHU

aku tak tahu ia telah menjadi seekor anjing gila padahal yang ku…

Contoh Puisi Untuk Kado Pernikahan

KASIDAH PERNIKAHAN

ada yang meneguhkan syahadah di jalan kehidupan menggenapkan hitungan dari separuh ruh yang pernah menyaksi di saat entah di tempat entah hingga bersetubuhlah jiwa cahaya pada muara lautan cahaya berlinanglah airmata cahaya berlinanglah hingga menerang terang cahaya menerangi semesta dalam dadamu yang berseru memanggil manggil penuh rindu dan cinta yang mencahaya dari matamu yang cahaya sekepak kupu-kupu cahaya beterbangan mengepak ke langit cahaya ke puncak pekik ekstase cahaya!

Contoh Puisi untuk Teman

Narasi Untuk Orang Sakit
buat: hudan hidayat

terbanglah terbang segala mambang segala peri melintasi rembang petang mengajakmu menari dalam perih nyeri kata menelusur ke gelap pengap mimpi malam hari karena gelisahmu adalah hantu imaji yang memburu hingga ambang hingga melintas di tapal batas diri alam racau mabuk memekikkan rasa bosan dengan gemetar suara parau seamuk api membakarbakar reranting riwayat dimana segala mula segala dosa katamu bertanya dengan huruf yang memar biru lebam dalam catatan hari yang menggila sepi seperti tangantangan maut yang menjulur ke arahmu dengan mata membeliak mendelik dan hardik penuh gelagar halilintar dan pecut kilat api membelahbelah anganmu bebuahan dari sorga tumbuh bercahaya di dada perempuan yang menyimpan rahasia dalam sunyi goa hingga para pecinta menemu peta menelusur gunung lembah padang ilalang menemui sumber mata air rahasia derita bahagia yang mengalir di aorta nadi darahmu seperti airmata yang diteteskan menelusur ke muara laut rindu ci…

Contoh Puisi Rindu Kepada Tuhan

Menderaslah!

menderaslah menderas impian sebagai kenangan di sungai-sungai rinduku di laut gelombang hempas-hempas lelayar mengarah tuju hingga lunas segala pinta segala ujar ke dalam arung tak berbatas tepi. inilah derita yang ditawarkan lewati ambang hidup mati di sekarat maut sebagai gelisah mencari dan menemu. wajahmu! wajahmu! melindap-lindap dalam harap. buruan tatap. bayang menghilang bayang membayang kenang berdentang-dentang. di sunyi diri di hiruk pikuk hibuk diri sendiri. gemuruh dalam dada. debar di jejantung. mendegup-degup. menyeru seru. memanggilmu sepenuh rindu!

12 Januari 2003

Contoh Puisi Reformasi

KETIKA KAU SAKITI LAGI HATI KAMI

Ketika para penggarong uang negara yang telah menghabiskan pundi-pundi lumbung anak negeri kau ampuni. Maka engkau telah menyakiti hati kami untuk kesekian kali. Tapi kau tak pernah menyadari. Kau sakiti lagi. Dan lagi. Dan lagi.

“Kalian aku ampuni. Diucapkan terima kasih atas kesadaran untuk membayar hutang ke pundi-pundi lumbung anak negeri. Kalian memang pahlawan sejati. Tahu diri. Mengerti kesulitan negeri ini.”

Tapi itu saja tak cukup. Kita harus membayar hutang kembali. Ke negeri para gergasi. Karena pundi-pundi lumbung anak negeri telah habis, di pesta pora tikus berdasi.Kau tak tahu lagi langkah untuk mengisi kembali. Lalu: naikkan harga! naikkan harga!

“Tarif naik saudara-saudara! Jangan boroskan pemakaian listrik, telpon, dan minyak! Jadilah rakyat yang bijak. Prihatin akan keadaan negeri yang sedang kehabisan pundi-pundi…”

Tapi, sungguhkah kau tahu: listrik, telpon dan minyak yang kau naikkan harganya, menjadi bola bilyard yang kau sodok, men…

Kumpulan Puisi Untuk Kekasih

Kekasih!

(1)

Kekasih, tiba-tiba aku merasa hidupku sia-sia, sebagai pecundang yang lari dari medan perang, sembunyi dalam dengkur mimpi, berlari dari kemestian yang harus dihadapi


(2)

Kekasih, apa yang kucari di dunia ini? Karena engkaulah segala mula engkaulah segala tuju. Tapi aku terpelanting dalam goda dan rayu. Seperti moyangku dahulu!


(3)

Kekasih, demikian gaduh dalam dada dan kepalaku, ditabuh segala peristiwa ramai, hingga aku mengaduh. Menyeru namamu berulang kali.


(4)

Kekasih, aku demikian letih. Di mana cahaya matamu?

(5)

Kekasih, masihkah ada harap untuk menemu senyummu. Sedang terus berlari aku, dengan segala khianat dan pembohongan atas diri sendiri. Hendak menipu tatapmu, yang menusuk relung hati!


(6)

Kekasih, aku berlari dari kemelut dan maut. Sedang kutahu, di tangannya ada kunci pembuka pintu. Menemu dirimu. Tapi aku masih takut menemu cintaku. Menemu dirimu. Dengan segala malu pengkhianatan melulu.


(7)

Kekasih, kekasih, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku…

Puisi Mencakar Wajahmu Dengan Kuku Jemarinya Yang Lentik

puisi yang diam-diam ingin kau tulis mencakar wajahmu. dengan kukunya yang tajam. dan kau menulisnya sebagai kepedihan. inilah puisi, katamu, sambil membayangkan kuku di jemarinya yang lentik. dan menyisakan perih di wajahmu.

puisi yang kau kira sebagai kucing manis. berbulu lembut halus. ingin kau timang-timang dalam untaian kata di dalam sajak-sajak. yang ingin kau tulis di sebuah senja yang indah. saat matahari menyemburatkan warna jingga di langit.

tapi tak kau tahu siapa puisi. karena kau terbius oleh mabuk kagum.dengan debar di dada. peperti debur perlahan gelombang di pantai-pantai landai berpasir putih gemerlap tertimpa cahaya. di pantai mimpimu.

dengan harap untuk dapat mengetahui segala rahasianya. kelembutannya. sebagai kedamaian yang hadir dalam hatimu. sebagai ekstase yang menuntaskan segala birahi. membuat hidup jadi demikian gairah. menyala terang seterang purnama bulan. maka kau ingin mengabadikan puisi dalam huruf-huruf, kata-kata, frasa, kalimat, bait, sajak…

seb…

Kapak Merah Puisi Berdarah

diacung kapak digedor-gedor pintumu belah-belah kepalamu berdarahlah
puisi berdarahlah dalam alir nadi tubuhku kata-kata dalam sumsum
otakku

"habisi saja masa lalu juga segala yang bernama dosa"

lihatlah tari itu dalam genang, o, sang pemberontak, dalam tikam
dalam dendam dalam kelam dalam geram

"mampuslah! mampuslah! segala yang bernama kelemahan!"

tak bermata hati hatimu membatubatu karena segala tegar adalah
dirimukah segala pasti tak ada demikiankah

"demikian, aku mencium darah puisi begitu harum rasanya"



Tak Sampai Engkau

:scb

telah sampaikah engkau pada titik dimana rindu tak ada di mana puncak
segala puncak tergapai. siapa paling besar di antara paling besar.
engkaukah? mengekeh dalam luka tak sampai rindumu. cuma gerutu konyol
dan kelakar liar. karena tak sampai pada rindu. tak sampai engkau.

ah, kutahu, demikian pedih hatimu, dan teriak: pukimak!
demikian, kau?




Sepanjang Jalan Indonesia

"sepanjang jalan indonesia, buku-buku terbakar, wartawan terbunuh,
tentara terbunuh, mahasiswa terbunuh, orang-orang terbunuh, sia-sia"

sia-sia? tak kau tahu siapa yang menurunkan siapa, siapa menaikan
siapa. jangan macam-macam bicara. kambing hitam kau namanya.

"sepanjang jalan indonesia, sepanjang sejarah hitam, sepanjang darah
tercecer. catatkan namamu pada halaman-halaman yang terlipat..."

siapa melipat? jangan bicara tanpa fakta. provokator kamu!

"sepanjang jalan indonesia, dihadang kapak merah, dihadang preman
politik, di hadang calo kekuasaan..."

matamu! sini tak hajar! kamu tahu siapa di belakangku? hitung. berani
ngomong lagi? aku bakar rumahmu. aku... prek!

"sepanjang jalan indonesia, sepanjang sunyi, puisi-puisi sepi..."

nah, begitu! baru puisi!



Contoh Puisi Doa Untuk Keselamatan Negara dan Bangsa

Negeri Api

O, Allah, inikah negeri itu?

Hangus wajahku
Hangus tubuhku
Hangus hati nuraniku

O, Allah, inikah negeri itu?
Api menjela panas begitu
Kutuk apa sampai di sini

Tak henti mengapi
Tak henti mengapi
Tak henti mengapi




Contoh Puisi Keinginan Menulis Puisi Rindu

Ingin Kutulis Untukmu

Ingin kutulis sajak untukmu. Mungkin ucap rindu. Tapi kekasihku, tak
kutemukan kata itu. Kucari ia dalam buku-buku. Tak juga ketemu. Kurobek buku-buku.
Kulempar semauku. Beri aku kata!

Tak ada yang memberi kata itu. Tak ada yang memberi tahu di mana kata itu.

Aku menjadi marah. Kuhancurkan rumah-rumah. Kuhancurkan segala yang ada.
Beri aku kata!

Kesunyian seperti biasanya, mencoba menghiburku. Tapi tak diserunya kata
itu. Beri aku kata!

Kubunuh kesunyian. Karena ia membisu. Tak tahu ku rindu. Beri aku kata!

Demikialah kekasihku, tak kutemukan kata itu. Mungkin kau memang tak
memerlukan juga kata itu.

Beri Aku Kesunyian

beri aku kesunyian, demikian bising udara, o, sorot matamu demikian
nyala, siapa membakar dinding kota?

seorang pecinta memimpi sunyi memimpi cintanya yang sunyi memimpi sunyinya
sendiri memimpi mimpi

berikan aku kesunyian, demikian pengap itu benci, o, sorot matamu demikian
bakar, siapa menyalakan di dinding kota

seorang pecinta memimpi embun memimpi embunnya yang sunyi memimpi sunyinya
sendiri mengembun embun

: beri aku kesunyian!




Siapa Sampai Pada Ucap

siapa menolak siapa
siapa menerima siapa

siapa mengaku siapa
siapa mengiya siapa

ah mengapa diterima segala bukan engkau
ah mengapa ditolak engkau sesungguhnya

gemetar tursina gemetar golgota gemetar hira
kau maha rahasia kau maha rahasia

siapa mengeja siapa
siapa menafsir siapa
siapa membaca siapa

siapa merahasia siapa
siapa mencanda siapa

ah mengapa dicintacinta segala bukan engkau
ah mengapa dibencibenci engkau sesungguhnya

gemetar aku gemetar
sampaikah ucap pada tolak segala yang bukan engkau
sampaikah ucap pada terima: hanya engkau!

sampaikah...





Selamat Pagi Indonesia

selamat pagi indonesia
tak ada lagi airmata buatmu hari ini

telah kering airmata menangisi engkau

selamat pagi indonesia
semoga kau bahagia


Hendak

rasakan dengan mata hatimu

inikah yang terangan dalam benakmu
kedalaman palung inginmu

di mana segala ucap tak sampai

begitukah inginmu menyelam dalam
tak usai-usai

menerjemah kehendak

sorot mata menghamburkan segala
impian yang menyerpih

ah, bagaimana kau dapat bahagia?




Negeri Impian

ambilah saja sayap ini, agar kau dapat terbang, jangan khawatir aku
bukan pinokio si hidung panjang, seperti yang sering dalam anganmu.
ambilah pater, ambilah. kau tak rindu allice. tak rindu hook, yang
membuatmu semakin bergairah. dan kau tahu aku pun merindukanmu. kau
ingat, aku bidadari bersayap. ambilah pater. ambilah. kita akan
bernyayi lagi. menari lagi. berlari lagi. dari jebak hook dan kait
besinya.

kau bosan pater? dengan segala dongeng ini. kau ingin seperti aladin,
ali baba, sinbad. baiklah jika itu maumu. tapi mengapa kau tak
memilih saja menjadi raja di sebuah negara ketiga. kau akan sangat
kaya. negara adalah milikmu. milikmu! mau?

ah, kau ini, bagaimana sih pater. tak ada lagi kanak dalam benakmu.
tak ada lagi fantasi. keingintahuan yang lugu. ah kau.

aku ingat. pada episode pertama. saat kau dilahirkan. kau menjerit
keras sekali. kau protes rupanya. dunia tak membuatmu nyaman rupanya.
tak seperti dalam bungkus itu. begitu nyaman dan hangat dalam rahim
ibu…

Langkah

ku sapa engkau, ku sapa dengan segala ingatan, sebentang jalan, di
mana kita telah datang, ke mana kita akan pulang,

menghitung usia berhamburan, mengukur langkah terseok, ah akankah
sampai kita pada perhentian sesungguhnya




Air Mata Yang Meluncur Dari Tawa

dalam tawa itu, dan hembus asap rokok, peristiwa berguguran. seperti
juga didongengkan matamu.

di mana negeri-negeri jauh itu? kita bermimpi suatu ketika. bersayap
dan menari di biru cakrawala.

tapi mengapa butir demi butir airmatamu. meluncur ke bumi.

dalam tawa, mengapa ada airmata?




Aku Takut

Aku Takut
buat: ompie heri

aku takut sajak-sajak
membutakan kesadaran
menyamarkan persoalan,
seakan tak terjadi apa-apa

o, aku pecinta yang kesepian
menawarkan kata-kata, sebagai embun
tapi api tetap berkobar,
tapi kebencian tetap menyala!

o allah, inikah negeri api?


Tak Perlu

tak perlu kau tuliskan namamu. ini tembok putih saja. tak terlalu
putih sepertinya. karena mengelupas catnya dan menguning coklat hitam kena
tempias hujan dan tempelan debu. tak perlu kau tulis namamu di situ.
walau kau mungkin rindu diriku. atau kau ingin memaki. seperti ketika
kau demikian kesal. Kepada penguasa bengal. tak perlu kau tulis
namamu. tak perlu. tapi bolehlah. Kau tulis namaku. di situ. jika
memang kau rindu diriku



Serahasia Danau

demikianlah, aku memandangmu, sebagai danau yang diam, begitu biru
rahasia apa hendak kau simpan, dalam

matamu tak isyaratkan apa,

tapi kau tahu, air tenang
menenggelamkan

aku ke dalam
tanya



Aku Bergelayut Di Tali

Aku bergelayut di tali, semoga tak goyah, melemah jemari
Kukuh memegang cinta kasihmu, kekasih

Aku bergelayut di tali, jangan sampai terpelanting
Terbanting ke jurang-jurang nganga

Aku bergelayut di tali, memanjat hingga sampai
Di hadapmu, kekasih yang tak henti dicari, hingga capai

Hingga gapai



Berulang Kueja Nama

Berulang kueja nama, berulang, dalam zikir rindu
Tapi tak sampai pada hakikat alifbataku

Berulang kueja nama, berulang, dalam dawam cinta
Tapi tak hatam sampai pada makna

Berulang kueja nama, berulang, hingga tumpas diri
Mabuk kepayang, bayangmu, di puncak nyeri

Rahasia wajahmu



Dongeng Burung

sayapku patah, katamu, seperti mengulang kata-kata itu, serupa
gibran? tapi sepertinya aku bukan gibran dan kau bukan ziadeh yang saling
merindu, hingga waktu memisahkan, dengan pedangnya yang tajam

jika sayapmu patah, pastilah kau burung yang terbang tak henti, atau
karena pemburu memanah hingga luka, atau rahwana membantingmu, saat
penculikan itu, kau dengar jerit? perempuan di sebuah hutan

aku dengar ribuan burung jutaan burung beterbangan, menuju langit
hitam, mencari cahaya, suaranya mencericit, bikin ngilu, kaukah salah
satu? sebagai huruf-huruf attar

pernahkah kau sampai di perahu nuh, membawa daun, atau negeri balqis
atas perintah sulaiman? membawa kabar itu

sudah kau dengar suaranyakah, menyapamu, membakar dan melumatkanmu
menjadi abu, dan abadi



Ada Apa Dengan Dunia Ini?

mungkin membuatmu gamang. tak memiliki pijakan. kau merasa
dikutukserapahi eros, berjalan tersaruk, pintu menutup. kau merasa
dikutuk, seperti sishipus menggelindingkan batu, tak henti.

karena kau lelah, kau ingin menjadi penghuni gua, tidur panjang,
serupa alkahfi?

mungkin aku demikian konyol. mengajakmu kembali ke jalan tak
berujung, sepi tak bertepi. membakarmu dengan api, membuatmu jadi
arang atau abu. mengajakmu menari, seperti zarathustra, di tengah
pasar, seperti orang gila, mengabarkan sesuatu yang mustahil, dan
orang akan menuduh gila. karena bermimpi menjadi promotheus
menyalakan api kesadaran...

ada apa dengan dunia?

"ada apa dengan diri kita!"



Cakram Matahari

Mengingat: Sutan Iwan Soekri Munaf

aku berputar sebagai cakram berputar sebagai waktu berputar detik menit jam
hari minggu bulan tahun windu abad jaman terbit di pagi tenggelam di senja
rindu menggoda goda dalam kata frasa kalimat baris bait alinea wacana bab
kisah kisah tua sebagai ephos pada tangan homeros diputar ingatan diputar
kenangan sebagai gelisah menunggu di puncak rindu..





Tarian Zarathustra

seperti pijar, ingatan, kau menarikan derita manusia, di padang
terbuka, musik letusan, begitu merdu, debu itu pakaianmu selalu,
wajah bengis atau rintih pilu, pertaruhkan: inilah cinta itu
sayangku, tikaman pada jantung, 35 butir peluru bersarang di tubuh,
inilah darah, tarian purba, zarathustra, zarathustra....

mengapa disembunyikan wajahmu? dalam senyum, sedang hunus di tanganmu
siap tikam menikam. lunaskan segera. lunaskan!

seekor gagak berekor gagak, berjuta burung nazar berkaok-kaok,
mengendus-ngendus, bau dari tanganmu. sayap hitam. paruh tajam.
mencucuk-cucuk daging...

ah, derita manusia...derita manusia...




Contoh Puisi Kerinduan

Gelombang Pasang

rinduku menderu sebagai gelombang bergulung gulung ke pantaimu dengan
gairah yang tak habis habis membandang bandang membanjir banjir
membuncahruah tak henti henti mencium melumat karang dengan cinta cintaku
detik harus berhenti saat ini juga aku rindu pantai aku rindu memeluk aku
rindu pasir pasir aku rindu tubuhmu aku rindu!





Sajak Ulang Tahun

23:26:54 7/07/2002

Ada yang ingin menerbangkan pikirannya
seperti ilalang yang ditiup angin.

Pada usia yang berangkat
dengan segala sia-sia dan putus asa.

Ada engkau yang menjenguk
dengan dada berdebar dari balik jendela.

Menunggu jam
berdenting. Tepat di titik nol.

Dia datang
dengan selimut kabut. Dan cucuran embun

dari matanya demikian deras menyapamu. Malam itu..






Negeri Cinta

akulah negeri yang kau cari detik demi detik dalam kata kata meneulusup ke
dalam relung dada menelusup lewat tatap matamu yang rindu bicara agar cinta
tak habis agar gairah tak habis agar mimpi mimpi tak habis agar tak darah
matahari menangis agar tak pedih dipanggang api abadi agar laksana mimpimu!






Label

Tampilkan selengkapnya

Arsip

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers