Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2003

Contoh Puisi Rindu Kepada Tuhan

Menderaslah!

menderaslah menderas impian sebagai kenangan di sungai-sungai rinduku di laut gelombang hempas-hempas lelayar mengarah tuju hingga lunas segala pinta segala ujar ke dalam arung tak berbatas tepi. inilah derita yang ditawarkan lewati ambang hidup mati di sekarat maut sebagai gelisah mencari dan menemu. wajahmu! wajahmu! melindap-lindap dalam harap. buruan tatap. bayang menghilang bayang membayang kenang berdentang-dentang. di sunyi diri di hiruk pikuk hibuk diri sendiri. gemuruh dalam dada. debar di jejantung. mendegup-degup. menyeru seru. memanggilmu sepenuh rindu!

12 Januari 2003

Contoh Puisi Reformasi

KETIKA KAU SAKITI LAGI HATI KAMI

Ketika para penggarong uang negara yang telah menghabiskan pundi-pundi lumbung anak negeri kau ampuni. Maka engkau telah menyakiti hati kami untuk kesekian kali. Tapi kau tak pernah menyadari. Kau sakiti lagi. Dan lagi. Dan lagi.

“Kalian aku ampuni. Diucapkan terima kasih atas kesadaran untuk membayar hutang ke pundi-pundi lumbung anak negeri. Kalian memang pahlawan sejati. Tahu diri. Mengerti kesulitan negeri ini.”

Tapi itu saja tak cukup. Kita harus membayar hutang kembali. Ke negeri para gergasi. Karena pundi-pundi lumbung anak negeri telah habis, di pesta pora tikus berdasi.Kau tak tahu lagi langkah untuk mengisi kembali. Lalu: naikkan harga! naikkan harga!

“Tarif naik saudara-saudara! Jangan boroskan pemakaian listrik, telpon, dan minyak! Jadilah rakyat yang bijak. Prihatin akan keadaan negeri yang sedang kehabisan pundi-pundi…”

Tapi, sungguhkah kau tahu: listrik, telpon dan minyak yang kau naikkan harganya, menjadi bola bilyard yang kau sodok, men…

Kumpulan Puisi Untuk Kekasih

Kekasih!

(1)

Kekasih, tiba-tiba aku merasa hidupku sia-sia, sebagai pecundang yang lari dari medan perang, sembunyi dalam dengkur mimpi, berlari dari kemestian yang harus dihadapi


(2)

Kekasih, apa yang kucari di dunia ini? Karena engkaulah segala mula engkaulah segala tuju. Tapi aku terpelanting dalam goda dan rayu. Seperti moyangku dahulu!


(3)

Kekasih, demikian gaduh dalam dada dan kepalaku, ditabuh segala peristiwa ramai, hingga aku mengaduh. Menyeru namamu berulang kali.


(4)

Kekasih, aku demikian letih. Di mana cahaya matamu?

(5)

Kekasih, masihkah ada harap untuk menemu senyummu. Sedang terus berlari aku, dengan segala khianat dan pembohongan atas diri sendiri. Hendak menipu tatapmu, yang menusuk relung hati!


(6)

Kekasih, aku berlari dari kemelut dan maut. Sedang kutahu, di tangannya ada kunci pembuka pintu. Menemu dirimu. Tapi aku masih takut menemu cintaku. Menemu dirimu. Dengan segala malu pengkhianatan melulu.


(7)

Kekasih, kekasih, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku…

Puisi Mencakar Wajahmu Dengan Kuku Jemarinya Yang Lentik

puisi yang diam-diam ingin kau tulis mencakar wajahmu. dengan kukunya yang tajam. dan kau menulisnya sebagai kepedihan. inilah puisi, katamu, sambil membayangkan kuku di jemarinya yang lentik. dan menyisakan perih di wajahmu.

puisi yang kau kira sebagai kucing manis. berbulu lembut halus. ingin kau timang-timang dalam untaian kata di dalam sajak-sajak. yang ingin kau tulis di sebuah senja yang indah. saat matahari menyemburatkan warna jingga di langit.

tapi tak kau tahu siapa puisi. karena kau terbius oleh mabuk kagum.dengan debar di dada. peperti debur perlahan gelombang di pantai-pantai landai berpasir putih gemerlap tertimpa cahaya. di pantai mimpimu.

dengan harap untuk dapat mengetahui segala rahasianya. kelembutannya. sebagai kedamaian yang hadir dalam hatimu. sebagai ekstase yang menuntaskan segala birahi. membuat hidup jadi demikian gairah. menyala terang seterang purnama bulan. maka kau ingin mengabadikan puisi dalam huruf-huruf, kata-kata, frasa, kalimat, bait, sajak…

seb…

Kapak Merah Puisi Berdarah

diacung kapak digedor-gedor pintumu belah-belah kepalamu berdarahlah
puisi berdarahlah dalam alir nadi tubuhku kata-kata dalam sumsum
otakku

"habisi saja masa lalu juga segala yang bernama dosa"

lihatlah tari itu dalam genang, o, sang pemberontak, dalam tikam
dalam dendam dalam kelam dalam geram

"mampuslah! mampuslah! segala yang bernama kelemahan!"

tak bermata hati hatimu membatubatu karena segala tegar adalah
dirimukah segala pasti tak ada demikiankah

"demikian, aku mencium darah puisi begitu harum rasanya"



Tak Sampai Engkau

:scb

telah sampaikah engkau pada titik dimana rindu tak ada di mana puncak
segala puncak tergapai. siapa paling besar di antara paling besar.
engkaukah? mengekeh dalam luka tak sampai rindumu. cuma gerutu konyol
dan kelakar liar. karena tak sampai pada rindu. tak sampai engkau.

ah, kutahu, demikian pedih hatimu, dan teriak: pukimak!
demikian, kau?




Sepanjang Jalan Indonesia

"sepanjang jalan indonesia, buku-buku terbakar, wartawan terbunuh,
tentara terbunuh, mahasiswa terbunuh, orang-orang terbunuh, sia-sia"

sia-sia? tak kau tahu siapa yang menurunkan siapa, siapa menaikan
siapa. jangan macam-macam bicara. kambing hitam kau namanya.

"sepanjang jalan indonesia, sepanjang sejarah hitam, sepanjang darah
tercecer. catatkan namamu pada halaman-halaman yang terlipat..."

siapa melipat? jangan bicara tanpa fakta. provokator kamu!

"sepanjang jalan indonesia, dihadang kapak merah, dihadang preman
politik, di hadang calo kekuasaan..."

matamu! sini tak hajar! kamu tahu siapa di belakangku? hitung. berani
ngomong lagi? aku bakar rumahmu. aku... prek!

"sepanjang jalan indonesia, sepanjang sunyi, puisi-puisi sepi..."

nah, begitu! baru puisi!



Contoh Puisi Doa Untuk Keselamatan Negara dan Bangsa

Negeri Api

O, Allah, inikah negeri itu?

Hangus wajahku
Hangus tubuhku
Hangus hati nuraniku

O, Allah, inikah negeri itu?
Api menjela panas begitu
Kutuk apa sampai di sini

Tak henti mengapi
Tak henti mengapi
Tak henti mengapi




Contoh Puisi Keinginan Menulis Puisi Rindu

Ingin Kutulis Untukmu

Ingin kutulis sajak untukmu. Mungkin ucap rindu. Tapi kekasihku, tak
kutemukan kata itu. Kucari ia dalam buku-buku. Tak juga ketemu. Kurobek buku-buku.
Kulempar semauku. Beri aku kata!

Tak ada yang memberi kata itu. Tak ada yang memberi tahu di mana kata itu.

Aku menjadi marah. Kuhancurkan rumah-rumah. Kuhancurkan segala yang ada.
Beri aku kata!

Kesunyian seperti biasanya, mencoba menghiburku. Tapi tak diserunya kata
itu. Beri aku kata!

Kubunuh kesunyian. Karena ia membisu. Tak tahu ku rindu. Beri aku kata!

Demikialah kekasihku, tak kutemukan kata itu. Mungkin kau memang tak
memerlukan juga kata itu.

Beri Aku Kesunyian

beri aku kesunyian, demikian bising udara, o, sorot matamu demikian
nyala, siapa membakar dinding kota?

seorang pecinta memimpi sunyi memimpi cintanya yang sunyi memimpi sunyinya
sendiri memimpi mimpi

berikan aku kesunyian, demikian pengap itu benci, o, sorot matamu demikian
bakar, siapa menyalakan di dinding kota

seorang pecinta memimpi embun memimpi embunnya yang sunyi memimpi sunyinya
sendiri mengembun embun

: beri aku kesunyian!




Siapa Sampai Pada Ucap

siapa menolak siapa
siapa menerima siapa

siapa mengaku siapa
siapa mengiya siapa

ah mengapa diterima segala bukan engkau
ah mengapa ditolak engkau sesungguhnya

gemetar tursina gemetar golgota gemetar hira
kau maha rahasia kau maha rahasia

siapa mengeja siapa
siapa menafsir siapa
siapa membaca siapa

siapa merahasia siapa
siapa mencanda siapa

ah mengapa dicintacinta segala bukan engkau
ah mengapa dibencibenci engkau sesungguhnya

gemetar aku gemetar
sampaikah ucap pada tolak segala yang bukan engkau
sampaikah ucap pada terima: hanya engkau!

sampaikah...





Selamat Pagi Indonesia

selamat pagi indonesia
tak ada lagi airmata buatmu hari ini

telah kering airmata menangisi engkau

selamat pagi indonesia
semoga kau bahagia


Hendak

rasakan dengan mata hatimu

inikah yang terangan dalam benakmu
kedalaman palung inginmu

di mana segala ucap tak sampai

begitukah inginmu menyelam dalam
tak usai-usai

menerjemah kehendak

sorot mata menghamburkan segala
impian yang menyerpih

ah, bagaimana kau dapat bahagia?




Negeri Impian

ambilah saja sayap ini, agar kau dapat terbang, jangan khawatir aku
bukan pinokio si hidung panjang, seperti yang sering dalam anganmu.
ambilah pater, ambilah. kau tak rindu allice. tak rindu hook, yang
membuatmu semakin bergairah. dan kau tahu aku pun merindukanmu. kau
ingat, aku bidadari bersayap. ambilah pater. ambilah. kita akan
bernyayi lagi. menari lagi. berlari lagi. dari jebak hook dan kait
besinya.

kau bosan pater? dengan segala dongeng ini. kau ingin seperti aladin,
ali baba, sinbad. baiklah jika itu maumu. tapi mengapa kau tak
memilih saja menjadi raja di sebuah negara ketiga. kau akan sangat
kaya. negara adalah milikmu. milikmu! mau?

ah, kau ini, bagaimana sih pater. tak ada lagi kanak dalam benakmu.
tak ada lagi fantasi. keingintahuan yang lugu. ah kau.

aku ingat. pada episode pertama. saat kau dilahirkan. kau menjerit
keras sekali. kau protes rupanya. dunia tak membuatmu nyaman rupanya.
tak seperti dalam bungkus itu. begitu nyaman dan hangat dalam rahim
ibu…

Langkah

ku sapa engkau, ku sapa dengan segala ingatan, sebentang jalan, di
mana kita telah datang, ke mana kita akan pulang,

menghitung usia berhamburan, mengukur langkah terseok, ah akankah
sampai kita pada perhentian sesungguhnya




Air Mata Yang Meluncur Dari Tawa

dalam tawa itu, dan hembus asap rokok, peristiwa berguguran. seperti
juga didongengkan matamu.

di mana negeri-negeri jauh itu? kita bermimpi suatu ketika. bersayap
dan menari di biru cakrawala.

tapi mengapa butir demi butir airmatamu. meluncur ke bumi.

dalam tawa, mengapa ada airmata?




Aku Takut

Aku Takut
buat: ompie heri

aku takut sajak-sajak
membutakan kesadaran
menyamarkan persoalan,
seakan tak terjadi apa-apa

o, aku pecinta yang kesepian
menawarkan kata-kata, sebagai embun
tapi api tetap berkobar,
tapi kebencian tetap menyala!

o allah, inikah negeri api?


Tak Perlu

tak perlu kau tuliskan namamu. ini tembok putih saja. tak terlalu
putih sepertinya. karena mengelupas catnya dan menguning coklat hitam kena
tempias hujan dan tempelan debu. tak perlu kau tulis namamu di situ.
walau kau mungkin rindu diriku. atau kau ingin memaki. seperti ketika
kau demikian kesal. Kepada penguasa bengal. tak perlu kau tulis
namamu. tak perlu. tapi bolehlah. Kau tulis namaku. di situ. jika
memang kau rindu diriku



Serahasia Danau

demikianlah, aku memandangmu, sebagai danau yang diam, begitu biru
rahasia apa hendak kau simpan, dalam

matamu tak isyaratkan apa,

tapi kau tahu, air tenang
menenggelamkan

aku ke dalam
tanya



Aku Bergelayut Di Tali

Aku bergelayut di tali, semoga tak goyah, melemah jemari
Kukuh memegang cinta kasihmu, kekasih

Aku bergelayut di tali, jangan sampai terpelanting
Terbanting ke jurang-jurang nganga

Aku bergelayut di tali, memanjat hingga sampai
Di hadapmu, kekasih yang tak henti dicari, hingga capai

Hingga gapai



Berulang Kueja Nama

Berulang kueja nama, berulang, dalam zikir rindu
Tapi tak sampai pada hakikat alifbataku

Berulang kueja nama, berulang, dalam dawam cinta
Tapi tak hatam sampai pada makna

Berulang kueja nama, berulang, hingga tumpas diri
Mabuk kepayang, bayangmu, di puncak nyeri

Rahasia wajahmu



Dongeng Burung

sayapku patah, katamu, seperti mengulang kata-kata itu, serupa
gibran? tapi sepertinya aku bukan gibran dan kau bukan ziadeh yang saling
merindu, hingga waktu memisahkan, dengan pedangnya yang tajam

jika sayapmu patah, pastilah kau burung yang terbang tak henti, atau
karena pemburu memanah hingga luka, atau rahwana membantingmu, saat
penculikan itu, kau dengar jerit? perempuan di sebuah hutan

aku dengar ribuan burung jutaan burung beterbangan, menuju langit
hitam, mencari cahaya, suaranya mencericit, bikin ngilu, kaukah salah
satu? sebagai huruf-huruf attar

pernahkah kau sampai di perahu nuh, membawa daun, atau negeri balqis
atas perintah sulaiman? membawa kabar itu

sudah kau dengar suaranyakah, menyapamu, membakar dan melumatkanmu
menjadi abu, dan abadi



Ada Apa Dengan Dunia Ini?

mungkin membuatmu gamang. tak memiliki pijakan. kau merasa
dikutukserapahi eros, berjalan tersaruk, pintu menutup. kau merasa
dikutuk, seperti sishipus menggelindingkan batu, tak henti.

karena kau lelah, kau ingin menjadi penghuni gua, tidur panjang,
serupa alkahfi?

mungkin aku demikian konyol. mengajakmu kembali ke jalan tak
berujung, sepi tak bertepi. membakarmu dengan api, membuatmu jadi
arang atau abu. mengajakmu menari, seperti zarathustra, di tengah
pasar, seperti orang gila, mengabarkan sesuatu yang mustahil, dan
orang akan menuduh gila. karena bermimpi menjadi promotheus
menyalakan api kesadaran...

ada apa dengan dunia?

"ada apa dengan diri kita!"



Cakram Matahari

Mengingat: Sutan Iwan Soekri Munaf

aku berputar sebagai cakram berputar sebagai waktu berputar detik menit jam
hari minggu bulan tahun windu abad jaman terbit di pagi tenggelam di senja
rindu menggoda goda dalam kata frasa kalimat baris bait alinea wacana bab
kisah kisah tua sebagai ephos pada tangan homeros diputar ingatan diputar
kenangan sebagai gelisah menunggu di puncak rindu..





Tarian Zarathustra

seperti pijar, ingatan, kau menarikan derita manusia, di padang
terbuka, musik letusan, begitu merdu, debu itu pakaianmu selalu,
wajah bengis atau rintih pilu, pertaruhkan: inilah cinta itu
sayangku, tikaman pada jantung, 35 butir peluru bersarang di tubuh,
inilah darah, tarian purba, zarathustra, zarathustra....

mengapa disembunyikan wajahmu? dalam senyum, sedang hunus di tanganmu
siap tikam menikam. lunaskan segera. lunaskan!

seekor gagak berekor gagak, berjuta burung nazar berkaok-kaok,
mengendus-ngendus, bau dari tanganmu. sayap hitam. paruh tajam.
mencucuk-cucuk daging...

ah, derita manusia...derita manusia...




Contoh Puisi Kerinduan

Gelombang Pasang

rinduku menderu sebagai gelombang bergulung gulung ke pantaimu dengan
gairah yang tak habis habis membandang bandang membanjir banjir
membuncahruah tak henti henti mencium melumat karang dengan cinta cintaku
detik harus berhenti saat ini juga aku rindu pantai aku rindu memeluk aku
rindu pasir pasir aku rindu tubuhmu aku rindu!





Sajak Ulang Tahun

23:26:54 7/07/2002

Ada yang ingin menerbangkan pikirannya
seperti ilalang yang ditiup angin.

Pada usia yang berangkat
dengan segala sia-sia dan putus asa.

Ada engkau yang menjenguk
dengan dada berdebar dari balik jendela.

Menunggu jam
berdenting. Tepat di titik nol.

Dia datang
dengan selimut kabut. Dan cucuran embun

dari matanya demikian deras menyapamu. Malam itu..






Negeri Cinta

akulah negeri yang kau cari detik demi detik dalam kata kata meneulusup ke
dalam relung dada menelusup lewat tatap matamu yang rindu bicara agar cinta
tak habis agar gairah tak habis agar mimpi mimpi tak habis agar tak darah
matahari menangis agar tak pedih dipanggang api abadi agar laksana mimpimu!






Puisi Renungan Ulang Rahun

23:34:37 7/07/2002

Malam menebarkan bunga. Menyalakan lilin. Mengasapkan dupa.
Sebisik rindu yang diucap: ingin dikekalkan segala. Dalam kata.

Walau kau tahu segala fana. Segala fana. Bahkan...






Syair Ulang Tahun

23:31:25 7/07/2002

Demikian engkau kabarkan luka. Sebagai halaman yang membuka.
Ingin diterjemahkan silam. Sorot mata. Lenyap di titik hitam.

Sedikit lagi. Sedikit lagi. Di tikungan. Belokan.
Sebaris usia mengucapkan salam bagi upacaranya sendiri.

Sampai di mana tapak dijejaki. Sedikit lagi. Hingga...






Puisi Untuk sihar ramses“ucok” simatupang

10:46:35 7/08/2002
: sihar ramses“ucok” simatupang

Kau ingat saat kau lambaikan tanganmu. Di hujan yang menyimpan resah.
Sebagai geletar tak terucap. Membasah pelupuk mataku.

Tapi masih coba kusampai senyum. Untukmu. Dari beranda. Untukmu. Yang
melambai.

Di rinai hujan. Membasah rambutmu. Masih kau ingat?
Sebaris kenangan. Mungkin demikian fana.

Tapi masih coba kukekalkan segala yang fana. Walau....






mengingat: Ompie Heriansyah Latief

10:32:29 7/08/2002
mengingat: Ompie Heriansyah Latief

Kau kabarkankan musim panas di negeri utara yang menyimpan rindu.
Matahari sampai di jauh malam. Sebagai mimpi di tidurku.

Demikian fana. Kecup di keningku.
Dongeng yang tak habis dibaca hingga halaman terakhir.

Hingga dalam mimpiku seekor kodok melompat.
Ke danau yang tenang. Simpan cahaya bulan.

Memantul. Antara bunga teratai. Dan wajahmu. Ada..






mengingat: laila dan saman

11:14:26 7/08/2002
mengingat: laila dan saman

Kularungkan saja bayangan. Tak ada engkau sampai di sini.
New York yang sedih. September.

Tak kutulis lagi baris-baris mengingatmu:
Danau di tengah taman. Sepasang angsa. Kasmaran.

Di negeri utara. Seorang menanti.
Tapi kau tak datang. Di taman ini. Karena...






mengingat: oka “‘tarian bumi” rusmini

10:59:03 7/08/2002
mengingat: oka “‘tarian bumi” rusmini

Akulah keluh. Sebaris kalimat mengelupas dari sehalaman buku.
Akulah kata. Mengelupas dari sebaris kalimat.

Lalu aku menari. Akulah tarian:
Bumi. Bulan. Matahari. Bintang-bintang.

Karena surga mengusirku.
Akulah perempuan. Rindumu. Tapi...






Akulah puisi. Kudatangi Paz di malamnya yang ringkih

11:37:56 7/08/2002


Akulah puisi. Kudatangi Paz di malamnya yang ringkih. Kumabukkan ia dengan
kata. Hingga dadanya ingin meledak. Saat kuucap selamat malam di pagi yang
sebentar kan tumbuh. Ditulisnya aku dengan bahagia: kata, frasa, kalimat,
alinea. Bahkan katanya, aku mesti ada, jika ia tak lahir ke dunia.

Akulah puisi. Di matanya kuberi cahaya. Seperti...






Contoh Puisi Kwatrin

11:22:46 7/08/2002
mengingat: gm

Aku ingin menulis kwatrin, katamu. Di rindu yang lindap. Dan angin yang mengertap.
Lalu 4 baris sajak kau tulis. Kau sebut sebagai kwatrin.
Seguci kenangan. Meretak dalam kata-kata.
Kau lihat, demikian fana. Kata. Tak kekal di jemarimu. Mungkin...






buat: emry situmorang

12:04:32 7/08/2002
buat: emry situmorang

Usia? Demikian fana. Dari nol. Hingga nol. Dari lupa. Hingga lupa.
Seperti kau kata di titik malam. Mungkin kau lupa. Pada siapa.






Demikianlah Sunyi

Buat : TS Pinang

dihembus sunyi bersama nafasmu, o pejalan sendiri. menembangkan suluk
kerinduan pesisir pada hamparan sawah-sawah: bulir-bulir padi yang penuh
padat merunduk tunduk. kusampaikan salam hangat angin garam dari lautan.
seasin airmata. seasin airmata.

dihembus sunyi bersama nafasmu, o pejalan sendiri. menembangkan suluk
kerinduan pesisir pada puncak merapi: o asap yang mengepul dari mulutmu,
seperti kurasa gelegak di dasar bumi. kusampaikan hangat angin gelombang
lautan. seamuk mimpimu. seamuk mimpimu.

di sebalik sunyi, sehuruf puisi menari sendiri. menemu kenangan kembali.

Depok, 28 Agustus 2002




Sketsa Senja

senja, jingga matahari, dan aku
demikian sepi

gigil sendiri

menatap matahari mencorong
di gedung kaca

senja, jingga matahari, dan aku?
menghela nafas sendiri

berat sekali

mampang, 18 September 2002





Mungkin Aku Mabuk Arak Cintanya

mungkin aku mabuk arak Cintanya
menjalarkan rindu menatap wajah Kekasih

o engkau: rummi, rabiah, fansuri, arabi, halaz
demikiankah merindu Kekasih,

hingga mabuk dalam gelora Cintanya



Kuhadapkan Wajahku

Kuhadapkan wajahku barat timur utara selatan tenggara baratlaut timurlaut baratdaya coklattanah birulangit. Menghadapmu. O wajah yang dirindu. Dalam ingat yang lamat. Sebagai seru: kami bersaksi. O yang satu. O tempat segala mula. O tempat segala kembali.

Tapi jarak juga waktu. Membentang. Berliku jalan. Menemu engkau kembali. Menemu senyummu kembali.

Kuhadapkan wajahku barat timur utara selatan tenggara baratlaut timurlaut baratdaya coklattanah birulangit. Merindu.

Tatapmu.



Engkaukah

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Terbang ke langit. Hingga daging menjerit. Karena ia mencintai dunia. Walau fana.

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Telusuri lorong waktu. Ruang tak terhingga batasnya. Hingga daging tersayat. Melepuh di pucuk api.

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Dalam gigil doa. Menjelang pagi. Melecutku berulangkali.


Depok, 11 September 2002





Nama Yang Diterbangkan Dari Puncak Menara

kekasih demikian sayup suara,
dalam gigil angin senja,

namamu diterbangkan dari puncak menara

o, engkau yang kian samar,
demikian sayup memanggiliku

kembali

setulus cintamu
gemetarkan aku penuh rindu

zikir dalam sunyi diri sendiri


mampang, agustus 2002



INGATAN DARI MASA LALU

Aku pernah mencintaimu. Kau tahu. Aku pernah sungguh merindu dirimu. Kau tahu. Di baris sajak. mengekal dongeng airmata. Derita dan bahagia. Sebagai peta yang kuberi tanda. Di mana aku berada. Dalam kerling matamu. Di baris alismu. Di lengkung senyummu. Sepenuh cinta. Setulus doa. Di gelincir mimpi-mimpi. Mengembun di hijau subuh. Terbubuh namamu. Terbubuh di tugu waktu. Dari masa lalu. Ingatanku.

Depok, 2002


SEORANG YANG MENYIMPAN KISAHNYA SENDIRI

Ada yang menyimpan kisahnya sendiri. Di derai daun-daun jatuh. Sebuah taman kota. Dingin angin memagut. Gerimis menyapa. Sesorot mata yang jauh. Ke silam yang riuh. Di dada sendiri. Di ingatan sendiri.

Tapi mata adalah jendela. Kutemu engkau menangis. Sendiri. Di sudut lampau. Mengekal bayang. Mengekal ingatan.

Di baris sajak. Segores luka menyimpan jejak. Dirimu.

Depok, 2002



MATA KANAK ITU

: ria

mata kanak itu adalah dongeng yang dibacakan oleh langit malam pada kerlip bintang dan bulan yang bercahaya tentang ikan di toples petikan gitar dan denting piano berdenting denting memantul mantul di dinding waktu mengabadikan kenangan selagu kenangan tentang mimpimu di hari lalu













BATU AIRMATA

buat: jdr

Di puncak diam. Di perih rindu. Mendebar-debar jejantung. Batu menangis. Di sela-sela sunyi sendiri. Tangis sebagai gerimis.

Engkau menyapaku.

Sampaikan salam pada penghujung hari. Airmata mencurah dalam rindu. Tapi beku dalam waktu.

Dunia demikian dikhawatirkanmu.

Sebagai haru tersampai. Ingin gapai. Mimpi tak usai. Menderai ingatan diterpa angin lalu. Lelambai tangis batu. Ditempa waktu. Sebagai gerimis.

Engkau menyapaku.

Depok, 2002


GARIS GRAFIS

:hafis

bagaimana dapat kau
lukis masa depan

dengan jemari lukamu?

segaris wajah
diarsir waktu

ribuan bayang-bayang.

Menerka Diam

: dimz

sedalam rahasia
dipendam

dalam diam

diterka dari
sayup mata

teka teki waktu



KESABARAN WAKTU MENUNGGU

:nc

waktu. disusun detik demi detik keyakinan. di puing silam.
hingga tak ada kesangsian membusur. memanah luka yang sama.

waktu. ditata bata demi bata harap. di porak lalu.
hingga utuh jadi. menatap atap memayungi.

bahagia mimpi.






Contoh Puisi Kepedihan Karena Cinta

SENGKALA
:ang

demikian parau. suara. dari redam kepedihan. berhamburan segala mimpi buruk. jerit sakit. serupa paranoid. ditiup sengkala. ingin kabarkan bayang kematian bayang-bayang kenang. suaranya menusuk tusuk dada. menusuk tusuk hingga leleh airmata. menusuk tusuk hingga pecah gendang telinga. di upacara hitam bunga kamboja.


MEMBURU CAKRAWALA

:sb

sebagai deru memburu cakrawala. cintamu. melesatkan huruf-huruf ke udara. hingga sampai berita pada nama. ditatah kata demi kata hingga kukuh. tak luruh menjadi airmata.

sebagai deru. memburu cakrawala. mimpimu. menerbangkan huruf-huruf ke angkasa. hingga sampai saat pada alamat. ditatah kalimat demi kalimat hingga kekal riwayat.

pada cakrawala senyumnya.



NARASI MAWAR

serindu-rindu mawar menanti harumnya menebar tebar menunggu tunggu kabar tersampai.

“sioux, kutunggu beritamu.”

serindu-rindu mawar ingin dikalung cinta pada leher menutup dada bidang dagu biru.

“sioux, acung kapak dengan berani”

serindu-rindu mawar ingin terbang menemu yang dirindu. menemu tatapmu

“sioux, di altar persembahan darah perawan akan menetes”


( kelopak bunga di sela-sela rambutmu)

PUDAR BINTANG

tapi engkau bukan lagi bintang yang terang bercahaya. engkau demikian lindap. di harap yang merapuh. di dada lelaki.

tak ditemukan binar cahaya. dari mata yang menyimpan rahasia sendiri. jejak tak terpeta. di dadamu. sebagai galau di lubang hitam.

telah redup bintang. pudar. tersedot ke kelam tak berkesudahan.


Label

Tampilkan selengkapnya

Arsip

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers