Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2003

SEPI JUGA KIRANYA

: h.a

1.
sepi juga kiranya hadir dalam puisi berdiam membisu pada huruf yang kehilangan bunyi hingga kata-kata gugur dari rahim waktu karena sunyi kiranya....

2.
di dalam sunyi menetas puisi mencericip mencari mula kata di mana akhir kata dimana karena sepi gigilkanku dalam beku waktu

Puisi Untuk Kawan Seperjalanan

33 PLANET 33 MATAHARI 33 GALAKSI
: njibs

33 planet 33 matahari 33 galaksi ingin kugambar di hari ini sebagai ingatan tentang ketulusan cinta dan rindu yang mungkin mulai dilupakan karena ombak badai menerpa hari-hari hingga tak sempat dialamatkan padaku huruf-huruf yang kubaca sebagai puisi tapi ingin kulukis 33 planet 33 matahari 33 galaksi yang berputaran dalam semesta sebagai tanda aku mengingat sebuah ketulusan yang kusimpan di relung terdalam di dadaku


DI PERSIMPANGAN JALAN
:hl

1.

tapi mungkin engkau telah dikutuk menjadi orang yang sunyi memandang debu menumpuk di sudut dengan udara dingin dan dendam yang mengabukan bangunan dalam dada karena o tak kau pahami isyarat yang kusampaikan dengan demikian getir lewat sorot mata dan kibaran bendera yang sobek sobek diterpa angin ah engkau demikian keras kepala. dan kita bersimpang jalan sampai di sini...

2.

di sepanjang jalan di temaram lampu di dingin malam di sebuah percakapan yang menyimpan pedih masa lalu tentang badai dan salju di …

bagaimanakah membaca isyarat-Mu

allah,
bagaimanakah kudapat membaca isyarat
dari alir darah dan desing peluru

allah,
aku terhuyung dalam tanya
dan gemetar membaca peristiwa

allah,
aku teringat ucap malaikat
di saat adam akan dibuat

: "mengapa engkau akan mencipta makhluk
yang akan berbunuh-bunuh dan membuat kerusakan
di muka bumi."

allah,
bagaimanakah kudapat membaca isyarat
hingga sampai pada jawab rahasiamu

Sulur Sulur Waktu

: ibnu hs

sulur sulur waktu yang merambat di usia kita tumbuh
sebagai kenangan yang menjalar di lelangit rindu
sehingga kata sepertinya menjadikan abadi segala yang
fana padahal mimpi yang datang menyelinap dari
kedalaman laut rahasia mendenyarkan isyarat tentang
maut yang demikian telengas sehingga terciptalah puisi
yang sepi menjadi yatim menjadi piatu menjadi
kata-kata yang menolak kehendak dan kepastian walau
tahu segala tak abadi tapi ia menuliskannya seakan
abadi

Sketsa Tentang Kerinduan

: rull nh

tapi dibangunnya dunia dengan mimpi seperti diangannya cinta demikian
platonik sebagai jarak yang menebalkan rindu hingga beterjunan derai
tangis dari tebing tebing pipi mencurah deras menerjang terjal batu
batu juga karang dimana kau coba menatah nama sebagai tanda bahwa ada
yang pernah merindu pernah ada yang tulus mencinta di deretan huruf-
huruf di rentang masa di titik usia


Karnaval Patung di Depan Stasiun Malang

: ki bedjo

mungkin pernah kau bayangkan patung di depan stasiun itu bergerak
seperti arak-arakan karnaval kenangan di masa kecil dengan genderang
dan letusan karbit dari bumbung bambu dan wajah yang dicoret-coret
merah putih yang meleleh dari dahi ke leher ke dada seperti juga
mungkin kau bayangkan dirimu yang menunggang kuda itu diponegoro atau
sudirman yang kau tatap penuh kekaguman di bundaran di terik matahari
dengan mata kanakmu yang membayangkan mereka bergerak berarak dalam
iring-iringan itu...

Label

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers