Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2003

PERINGATAN

jangan lagi membaca puisi
nanti kau semakin tersesat jauh

puisi lebih berbahaya dari candu
lukanya lebih parah dari goresan belati

jangan coba-coba membaca puisi
apa lagi membaca tulisan ini

sebagai puisi
!


TIBA TIBA SAJA

tiba-tiba saja aku ingin merobek semua kertas yang pernah kusebut puisi, membakar dan menghanguskannya. hingga ia tiada. puisi yang tiada. amboi indahnya. puisi yang tiada. tiada yang puisi.

(tapi pembunuhan itu gagal: puisi bangsat kapan kau mampus!)

tiba-tiba saja. aku tak ingin peduli. dengan segala macam puisi.
awas! kalau kau bilang ini puisi....

Upacara Pengap Dada

1.
kupu-kupu robek sayap
hinggap di lengkung alismu

yang hitam

saat hari mulai gelap,
dikerjap mata

harap demikian lindap. pengap

2.

tak ada keteduhan bagi pengap jiwa
telah ditandai dengan asin darah
sebagai peta mula dan akhir airmata

karena gelisah tak pernah takluk
bahkan pada teduh matamu.....

Musim Musim Yang Menyelinapkan Airmata

seperti selalu kukabarkan padamu
tentang musim musim
yang menyelinapkan airmata
di sela sela puisi

adalah gerimis
yang kau lukis
dalam kanvas rindu

karena sesungguhnya
cinta demikian tabah
menerima luka derita

seperti engkau
seperti mimpi itu

diembun senyummu

Ya! Ya!

ya! ya! demikianlah hidup!
keras dan kejam

dan aku?
kerap menjadi pengecut

berlari dengan angan mimpi sendiri!

Upacara Kosong

jam berdetik. dan aku?
berhenti di titik nisbi

Upacara Sepi

secelah kekosongan tinggal di pinggir halaman. juga jeda antara baris bait. dimana disinggahkan sunyi. namun gaduh juga yang bertalu. setelah lembar-lembar kosong terisi takdir sepi. mungkin telah ditera namaku di situ. juga waktu. saat berjumpa. saat terlunas segala rindu. menatap wajahnya yang cahaya. hingga lebur diri. dalam arus gelombang cahaya lautan cahaya cintanya semata. mungkin, biarlah sepi mencari bunyinya sendiri. karena kutahu telah dimainkannya denting dalam bening hening. dan diwarnainya malam dengan hitam lengang. hingga terasa setusuk sepi mememerihnyeri di dada kiri. di jantung hati. sepisau sepi menikam tikam hingga sampai puncak nyeri merindui kekasih diri. di kilau tajam sehunus sepi tak henti menghunjam ke dalam dada sendiri. o, demikian nyeri ini rindu. mencari dan mencari. ke mana kekasih diri sejati? ingin kutemu sejati. dimanakah engkau wahai kekasih diri. hingga kutemu sejati. cinta sejati. lunaskan nyeri rindu di hati yang ditikam sepi.

Upacara Amnesia

sepertinya aku telah melupakan warna-warna. apa warna untuk rindu apa warna untuk cinta? karena guruf-huruf berguguran dari ingatan tentang puisi yang digugurkan dari rahim waktu, karena tiada kekal kata tiada abadi segala yang diingin selama. tapi masih ingin kutulis seisak yang tersisa dari sobekan kenangan di lipatan yang tak terbaca, mungkin airmata. kutulis diam-diam, selagi amnesia, selagi terlupa, hingga berdenyar segala puisi, mungkin tentang kesedihan yang teramat dalam. hingga berlinang dongeng puteri duyung, atau bintang yang teramat biru, di matamu, karena di rembang senja ditawarkan segala bimbang segala gamang

Upacara Abu & Yang Meledak Dalam Dada

Upacara Abu

Api yang dinyalakan telah mulai membakar. Lidahnya lebih tajam dari pedang. Amuknya lebih rongkah dari naga. Meliuk-liuk. Menjilati segala yang ada. Gemeretaknya melucuti keberanian. Menjadi keharuan. Mungkin pula ketakutan. Atau kecemasan. Karena biru hitam kuning merah menjela-jela. Dari wajah kusam. Dari mata yang meliar.

Inilah api. Mengamuk di dalam diri. Merobohkan segala.

O, diriku telah arang. Diriku telah abu. Ditiup angin ke segala penjuru. Menjelmalah burung-burung yang mencericit memekik menyeru namamu. Namamu.


Yang Meledak Dalam Dada

1.
ada yang meledak dalam dadaku mungkin bom waktu yang kusimpan telah sampai pada tiktaknya di detik nadir di titik akhir hingga puing puisi berserak menyerpih menjadi puing menjadi abu menjadi debu

2.
dijalin kabel dan mesiu dalam dada agar hilang nyeri tak henti menusuki jantung hati dunia yang kehilangan nurani kehilangan cinta sejati diri nyeri diri hingga geletar menjelma gelegar hingga tumpas segala nyeri merindu yang …

Label

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers