Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2003

Reportase Ersa

pada mata yang terkatup, tak ada yang sempat dilaporkan. lewat reportase. tentang rentetan tembakan. juga asin darah keringat dan airmata yang tersia di setiap pertempuran.

tapi mungkin sempat kau catat. dengan kalimat. teralamat pada segala hakikat.

Ada Apa dengan Hujan

ada apa dengan hujan? selalu membuatku merindu puisi. hingga jemari menari di tempias air. mungkin demikianlah puisi menjadi kutuk dengan segala kenang dan mimpi.

Mungkin Engkau Sisiphus Yang Berbahagia

:h.a.

mungkin engkau sisiphus yang berbahagia. memanggul batu di punggungmu. dan menyebutnya sebagai rindu. mungkin pula cinta

dan kau gulirkan batu itu. dari puncak gegunung puisi.

mungkin engkau sisiphus yang berbahagia. kau dengar? camus tertawa.


Di Penghujung Tahun

di penghujung tahun. mungkin ada yang membaca. huruf dan angka. pada mata. semburat kembang api. atau redup mengelam dini hari.

tapi mungkin ada yang menanda. gurat pada wajah. menua. usia tersia-sia

atau tak ingin diingat lagi tentang segala kenang juga harap yang diucapkan perlahan. pada hiruk tiupan terompet.

karena esok dan hari ini sama saja. tiada beda




Dan Kita Menghitung Waktu

pada titik-titik hujan dan embun di kaca jendela kita menghitung waktu. betapa cepat. hitungan usia. helai rambut memutih. sedang di seberang jalan kanak-kanak berlarian dan menari di bawah hujan. aku tatap diriku mengalir bersama air hujan. ke dalam gorong-gorong. waktu

Mungkin Engkau Ingin Menari di Bawah Hujan

mungkin engkau ingin menari di bawah hujan yang menderas di luar hingga lumpur menyipratnyiprat ke tubuhmu

mungkin engkau ingin menari dengan gemulai tubuh dan hentak tak henti henti kaki dan kepala

dan suaramu o suaramu menyeru penuh rindu bersaingan dengan geletar halilintar pekikan pedih perih ke langit kelabu

Mungkinkah Puisi

mungkinkah puisi akan membuatnya abadi. katamu sambil menulisi hari demi hari. tapi ia tak pernah membayangkan bahwa ia ingin abadi. karena waktu. karena waktu. katamu

dan engkau ingin melukis tentang cahaya bulan yang jatuh di tuwung arak seperti lipo yang menulis puisi dalam mabuk dan sepinya di bawah purnama bulan

mungkinkah puisimu akan abadi. katanya. sambil menghunjamkan sebilah pisau tajam ke jantung kiri.
Apa Yang Kau Cari



apa yang kau cari, katanya sambil melempar bebatu ke kali yang jernih ---seperti airmata yang tiba-tiba mengucur dari bebatu di balik pepohon dan semak-semak yang ingin kau tadahi dengan jemarimu-- tapi sebaris kenangan tersangkut di bebatu yang lain. mungkin pertanyaan itu, tentang apa yang dia cari. engkau bertanya suatu ketika. kepada mereka yang merayakan kepedihan. dengan kata-kata. di sebuah gema. yang berulang juga.

Mungkin Engkau

mungkin engkau tak ingin lagi menulis puisi karena kata-kata selalu saja membocorkan rahasia yang coba kau simpan di palung terdalam dadamu

mungkin engkau tak ingin melukai siapa pun
dengan kata-katamu

dan puisi berdiam berkecamuk
di sunyi sendiri

Mungkin Engkau dan Hujan Itu

mungkin hujan yang datang sore itu dengan rimisnya yang lembut membuatmu teringat pada sebuah puisi atau sebuah wajah atau sebuah kenangan yang mungkin pernah ingin kau lupakan tapi sapaan demi sapaan (seperti saat itu engkau merasa rimis hujan menyapamu dan menanyakan kabar puisi) membuatmu teringat lagi

dan engkau termangu pada sebuah puncak sunyi puncak bunyi puisi

mungkin ada yang merindukanmu mungkin disampaikan lewat kata-kata pada kawat mungkin juga udara atau mimpimu

tapi mungkin ingin kau ingin lupakan segalanya melupakan segala hiruk pikuk dunia yang membuatmu mual dan muak

dan engkau termangu setiap kali puisi menyapamu

Sebagai Kau Temukan Rumah Yang Lengang

:candylam

sebagai kau temukan rumah yang lengang. sunyi kata-kata. demikianlah puisi. menemukan puncak bunyi.

Di Beranda Engkau Membaca Puisi

: labibah zein

Di beranda engkau membaca puisi dari mata kanak-kanak atau cahaya matahari yang tersangkut di rambut penyair. Di negeri jauh yang menanggungkan rindu dan mulai menulis tentang waktu yang berangkat ke arah senja. Mungkin tak ada yang sempat menanyakan tentang alamat ke mana akan kembali. Karena di mana pun adalah perjalalan untuk pulang. Sebagai seringkali ditelusuri jejak peta dengan airmata. Di mata kanak-kanak ingin kau temukan negeri itu. Di beranda engkau membaca puisi. Sebagai cahaya matahari senja tersangkut di rambutnya.

Label

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers