Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2007

Antropomorfisme

ketika penyair itu bertamu ia membayangkan lengan kursi itu memeluknya seraya bercerita tentang kaki langit yang jenjang hingga pelangi berjuntai-juntai menyentuh kaki gunung dan mulut gua menjadi nganga terkagum-kagum dan menepuk bahu jalan yang menggelendot manja di dekat ngarai itu




Litotes

aku tak sanggup lagi menuliskan kata-kata
menjadi puisi
menjadi

Personifikasi Matahari, Hujan, Tiang Listrik

beri aku puisi, katamu suatu ketika. matahari malas mendengar kata-katamu, ia segera pergi ke balik malam. dan hujan yang tiba-tiba marah mencurahkan dingin ke kepalamu, seraya berteriak: inilah puisi. tiang listrik tertawa-tawa, mungkin lucu rasanya: penyair minta puisi.

puisi? dimana kiranya. mungkinkah puisi sedang sakit dan sekarat. sehingga ia tak pernah datang. seperti dulu, mengetuk-ngetuk jendela tak siang tak malam tak petang tak subuh.

beri aku puisi, katamu. kepada siapa. entah siapa.

Simile Matamu

Sebagai langit hitam tak kunjung hujan,
karena kesedihan bergelayut tak berkesudahan

Hiperbola

membaca sebaris puisi
dan ia orgasme berulang kali

Metafora

adalah mimpi-mimpimu
yang tersangkut di dahan kata-kata

dan orang menyebutnya puisi

adalah embun yang tiba-tiba menggantung
di pelupuk mata

penamu tak henti menari

karena, engkau adalah .....

hopla!

aku pungut puing puisi
dari segala kenang
yang membayang

aku pungut puing kata
dari segala tawa
yang meluka

inikah teka teki
membilang huruf
di anagram nasib

hopla! siapa itu menari?

Label

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers