Apa yang anda cari? Silakan Cari di sini

Kumpulan Puisi Wisata Terbaru 2013


DI LONDON SALJU POST COLONIAL

salju turun demikian lebat selebat kelebat kelebat bayangan sejarah
di antara patung patung dan gedung tua

sale! sale! musim dingin belum habis
wajah wajah cerah berburu di butik butik

aku membayangkan salju post colonial turun
di ruangan berpenghangat

tak ada yang menanyakan darimana aku berasal
seperti hanya kuduga wajah wajah eropa timur

lithuania, rumania, rusia, slovakia,
bangsa bangsa yang berdesakkan dalam kepalaku
juga di dalam butik butik yang berteriak sale sale

aku berfoto dengan patung muhammad alfayed,
dan tak masuk ke tokonya,
harod, aku ikut bersedih tentang dodi dan diana

salju turun demikian lebat
parit parit membeku, di london city, aku ikut membeku
bersama ingatan post colonialku



CHINA TOWN

apa yang merekatkan kita, mungkin nasi
bukan steak kentang dan roti

bebek panggang di chinatown london, enggan masuk ke dalam lambungku
ah, masih kuingat bebek panggang di pusat kota beijing
kedai makan yang berhuruf arab di temboknya

tapi udara demikian dingin, dan aku harus makan
sup yang hambar, sayur yang tak jelas rasanya, bebek yang asin dan asing
kukunyah perlahan, nasi memang mengeratkan kita



LOST IN LONDON

aku tersesat di london
saat toko-toko tutup jam 7 malam,

aku tersesat dengan handphone roaming
yang merampas pulsaku

aku menelusur trotoar china town london
dengan perut sakit menahan diare

aku termangu di trotoar depan kios tatto
menggigil kedinginan 

di kota london yang asing
aku harus berbicara dengan sopir taxi
"do you know hotel novotel?"

sopir taxi, keturunan india tertawa:
"find your hotel adress, eight novotel in london."

london masih sore, jam 7 malam
di tanah air sudah jam 2 dinihari

dan aku menggigil kedinginan
di antara salju yang melebat

aku tersesat di london



MADAME TUSSAUD

"where is sukarno madame?"
tapi madame tussaud tak menjawab pertanyaanku

di musium ini aku ingin melihat patung presidenku
tapi sukarno tak ada, suharto tak ada, susilo bambang yudhoyono tak ada

aku tertawa saat ada yang memeluk beyonce dan marilyn monroe
aku mendamaikan rosevelt dan hitler, mari kita berfoto, kataku

tak menemukan sukarno, aku menemukan enstein, hawkins, picasso dan shakespeare
aku bacakan puisi tentang london yang membeku dengan salju

jangan terlalu tegang arnold, ini bukan di film action
tertawalah seperti becham, seperti tom cruise

selintas aku bertemu madame tussaud lagi,
sebelum melintas di rumah hantu, rumah kekejian sejarah manusia

di musium ini,tak ada tanda pintu keluar, hanya ada: this way

aku tersenyum melintasi sejarah britania raya
dengan kereta mini, tersenyum pada kamera yang meminta tebusan

biarlah kau simpan fotoku madame,
aku tak punya uang pound berlebih

mungkin engkau akan membuat patung lilinku, kelak


VICTORIA VICTORIA

gedung gedung tua sepanjang buckingham,
sepanjang jalan jalan london
victoria victoria

thames yang jernih belum membeku
mengalirkan sejarah kegelapan dan pencerahan
penaklukan demi penaklukan negeri negeri jauh

victoria victoria
nama yang selalu bergetar di antara gedung gedung tua
perhiasan emas dan permata, di musium musium kota

victoria, victoria
gold glory gospel menyalakan matahari di semua lautan dan benua
di sepanjang jalan britania raya




OBRAL MUSIM DINGIN

mari kita berbelanja, kata reklame
mengajak ke london dan paris

di musim dingin banyak sale banyak soldes

nampak wajah-wajah cerah
dari negeri-negeri jauh
dari eropa timur dan asia 

aku memeriksa label harga
nampak tertera: made in china, vietnam dan kamboja
pantas murah harganya

selamat datang, welcome, are you from indonesia?
pedagang asal maroko menyapaku, dia bisa berbahasa indonesia

di toko-toko london dan paris
aku disapa pedagang india, maroko, afganistan, thailand

aku menatap harod, toko milik alfayed, dari jauh 
aih alfayed, jangan tertawa, aku tak masuk ke tokomu
poundku terbatas jumlahnya

pound yang pongah
euro, dollar dan rupiah terpuruk
di pasarnya


NAPOLEON

ada yang tak ingin mengenangmu, karena
menjadi kaisar adalah pengkhianatan

bagi revolusi yang menyala
berkobar api kebebasan, persaudaraan dan kesetaraan

telah diterjang bastille, telah dipenggal leher para tiran
tapi engkau memilih menjadi kaisar

kini di gedung itu, ada yang tak ingin mengenangmu
namamu berbaur di pemakaman pahlawan tak dikenal


LOUVRE

monalisa monalisa kau pandang wajah pengunjung
dengan mata dan senyum penuh rahasia 

apakah masih kau simpan kode davinci?
dari mata para pencopet di tengah kerumunan

di aula besar itu, mungkin kau dengar bisikan
dari abad kegelapan dari abad pencerahan

di louvre, monalisa, piramida kembar berhadapan
piramida meruncing ke atas ke bawah

kau dengar suara suara dari negeri negeri jauh
negeri negeri yang dulu terjajah dan masih terjajah

hidup bukan sekedar mithologi, berupa patung dan lukisan
di louvre, aku memandangmu, menjauh dari kerumunan


EIFFEL

di puncak menara
sepasang kekasih berciuman

dan terus berciuman
seperti takut kehilangan

mungkin ingin mereka kekalkan
cinta dan kenangan



AVENUE DES CHAMP ELYSEES

soldes soldes 
musim dingin mengundangmu berbelanja 

sepanjang jalan champ elysees
pertokoan dan cafe
gedung gedung tua

peradaban ditawarkan etalase
memintamu menziarahi masa lalu

orang orang sibuk berbelanja
namun ada yang terpukur di sudut itu,

di cafe yang menghadap jalan raya
ada yang berpikir tentang revolusi



SEINE

salju tak membeku di sungai seine,
kapal kapal masih melaju

pasir dan batu, sphinx dan obelix
sampai di kota ini, kota kaum parisi

seine mengalir tenang, di paris yang riuh
kapal kapal masih berlayar

mengangkut kenangan demi kenangan



Sila ditengok juga:

Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB
Web Nanang Suryadi
Kontes SEO


Komentar

Label

Tampilkan selengkapnya

Google+ Followers

Postingan populer dari blog ini

URL Google Plus

Personifikasi Matahari, Hujan, Tiang Listrik